My PPG Story: Semester Kedua - Menjadi Teladan di Sekolah Teladan

Pernahkah sesuatu yang pada awalnya kita anggap lama, pada akhirnya akan terasa begitu saja ringan berlalu? Dulu, di awal semester satu kuliah profesi, rasanya lama sekali empat bulan berkutat dengan lokakarya dan segala hiruk pikuknya. Kini saya baru menyadari, bahwa kuliah lokakarya empat bulan itu ternyata tak ubahnya satu kedipan mata. Pun dengan semester kedua yang sedang saya jalani sekarang ini. Tak terasa, tepat tinggal satu bulan lagi kami mahasiswa PPG yang diberi amanah untuk berbagi dan menimba ilmu di SMA Negeri 1 Yogyakarta dalam Program Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) akan ditarik kembali oleh universitas. 23 November 2018, rasanya tak ingin hari itu cepat datang. 

"Good teaching is 1⁄4 ​ preparation and 3⁄4 theatre." - Gail Godwin

Saya merangkai puluhan kalimat di tulisan ini pada hari ini, Selasa, 23 Oktober 2018. Memasuki bulan keempat kami berbagi dan menimba ilmu seputar persekolahan, pengajaran, pembelajaran, dan profesionalisme di sebuah SMA yang digadang-gadang merupakan teladan dari semua SMA di provinsi istimewa ini, SMA Negeri 1 Yogyakarta. Di awal bulan keempat PPL ini, saya ingin berbagi perihal pembelajaran hidup yang saya dapatkan selama kurang lebih 3 bulan menjadi warga sekolah. Pembelajaran itu lebih-lebih mengenai kehidupan yang tak banyak disinggung di bangku kuliah. Salah satunya adalah belajar untuk beradaptasi dengan orang-orang baru serta lingkungan yang lebih baru lagi. Selembar kertas ijazah belum tentu bisa menjamin kemampuan kita dalam berbaur dengan masyarakat. Pengalamanlah kuncinya.

What a sunny day!

Sekedar informasi, di pendidikan profesi khususnya PPG, PPL atau Praktik Pengalaman Lapangan adalah program wajib tempuh berbobot banyak SKS (maaf lupa) dan bisa dibilang highlight dari keseluruhan kegiatan kuliah kami. PPL mungkin bukan suatu hal yang asing lagi bagi mahasiswa kependidikan karena mau tak mau kami wajib melaksanakan program yang notabene melatih kami menjadi guru yang baik tersebut. Dulu, saat saya masih menempuh kuliah S1, PPL menjadi semacam batu loncatan untuk saya yang saat itu merasa belum mampu menjadi guru agar lebih yakin dan percaya diri lagi.

Tak berbeda dengan sekarang, PPL di pendidikan profesi yang notabene membutuhkan waktu 4 kali lipat lebih lama dan tenaga serta pikiran yang lebih besar ini masih saya manfaatkan menjadi tolok ukur kemampuan saya. Program ini kadang membuat saya kembali menanyakan beberapa pertanyaan besar kepada diri saya sendiri.

Siapkah saya menjadi guru profesional? Siapkah saya mengabdi dengan tugas yang mereka bilang sangat mulia? Siapkah saya membentuk pemikiran anak-anak negeri ini? Benarkah ini semua yang saya inginkan? Entah. Saya pun sampai saat ini masih bertanya-tanya.

23 Juli 2018

Hari itu adalah Senin yang cerah dan hangat. Setelah upacara bendera di sekolah berakhir, kami bertujuh terpaksa mengalah dengan takdir dan dengan perasaan tak karuan akhirnya diserahkan ke pihak sekolah untuk 4 bulan selanjutnya berkegiatan di sekolah ini. Mengapa tak karuan? Tak lain, sekolah yang dipercayakan pada kami adalah sekolah tersohor dengan prestasi yang bisa dibilang tidak main-main dan terbaik di wilayah ini. Membayangkan secerdas apa siswanya saja kami tak kuasa, apalagi disuruh mengajar mereka.

“Bisa-bisa kitanya yang diajar mereka nanti, Ras.”
“Ah, iya ya? Oh Tuhan.”



SMA Teladan dari sudut pandang dinding panjat tebing 😋

 


Minggu pertama berjalan canggung seperti pada umumnya. Kami yang saat itu ke mana-mana bertujuh masih belum begitu kenal dengan warga sekolah. Kami sering memperkenalkan diri pada guru, karyawan, dan staf ketika berpapasan di sekolah, berusaha menghafal raut muka dan nama-nama beliau. Awalnya susah memang, namun seiring waktu berjalan bisa kok hafal begitu saja, mungkin inilah kekuatan frekuensi interaksi.

Saat observasi awal

Sesaat setelah penerjunan oleh pihak kampus

Di minggu pertama, saya dan beberapa rekan satu jurusan sudah diberi amanah oleh salah satu guru Bahasa Inggris untuk menggantikan jadwal mengajar salah satu guru yang saat itu sedang melaksanakan ibadah haji. Selama kurang lebih 1 bulan kami menggantikan beliau mengajar kelas XII. Lumayan sih sebenarnya, kuota minimal jam mengajar bisa terpenuhi nih, pikir kami saat itu. Pada akhirnya, kami kewalahan karena materi yang diberikan lumayan banyak dan cukup sulit, terlebih lagi banyak siswa kelas XII yang tidak mau memperhatikan kami dan lebih memilih tidur karena lelah dengan tugas-tugas dan jam siang memang sangat mendukung untuk itu.

XI MIA 7

Saya diberi kepercayaan oleh guru pamong saya, Ibu Sri Amiyatun, S.Pd. untuk mengampu kelas XI MIA 7 sebagai guru kelas Bahasa Inggris Wajib. Kelas ini berisi 32 siswa yang hampir semuanya penurut, ingin tahu, rajin, dan memiliki pemikiran kritis. Kelas ini merupakan kelas khusus OSN/Riset yang memiliki fokus menghasilkan researcher dan olympiad champion muda berbakat dengan pembelajaran intensif dan bimbingan oleh guru ahli. Mengajari mereka Bahasa Inggris jadi terasa mudah karena mereka memang notabene sudah pintar dari sananya, haha.






Future scientists!

Antengnya XI MIA 7 adalah hanya saat ulangan

Sebenarnya saya sangat bahagia berbagi ilmu dengan siswa-siswi di kelas yang kritisnya luar biasa ini. Kepribadian mereka pun bermacam-macam, dan kadang bikin geleng-geleng kepala. Ada yang seneng skip pelajaran (untung pinter sih), ada yang pertanyaannya nggak masuk akal, ada yang ikut pelajaran sambil makan siang, bahkan ada yang jadi sleeping beauty saat jam pelajaran siang. Baiknya, banyak dari mereka yang tak malu melontarkan pertanyaan-pertanyaan saat belum paham ketika mempelajari sesuatu. Banyak pula yang antusias menjawab pertanyaan-pertanyaan demi mendapatkan poin di Medal Hunt, walaupun jawabannya seadanya dan benar-benar sekenanya. Yang saya sayangkan adalah, saya belum pernah mengajar di kelas ini dengan jumlah siswa 32 orang utuh. Bahkan sampai saat ini. Beberapa siswa sering izin tidak mengikuti pelajaran karena persiapan lomba, melakukan penelitian, dan apapun itu yang berhubungan dengan OSIS ataupun OSN/Riset. Ini jadi sebuah kekosongan tersendiri bagi saya. Seperti ada jiwa yang hilang, gitu~

Menuju Agustus yang Berjuang

Bulan pertama PPL kami banyak diisi dengan observasi kelas, penyesuaian jadwal, menyusun silabus dan RPP, menggantikan guru yang berhalangan mengajar, bertugas di ruang piket, menyambut mahasiswi PPL dari UII dan UAD, dan masih banyak lagi. Menurut saya, bulan pertama adalah bulan yang paling melelahkan bagi kami. Selain dituntut harus cepat beradaptasi, banyak tugas yang harus kami selesaikan. Ditambah lagi, awal Agustus lalu pihak sekolah melaksanakan penilaian akreditasi. Sibuk? Parah. Semua pasukan dikerahkan; guru, karyawan, staf, maupun mahasiswa PPL. Semua perlengkapan digunakan. Printer di ruang lobby bahkan sampai kehilangan kewarasannya karena “dipaksa” bekerja hingga larut.

Kami bertujuh sempat terpana setelah mengikuti upacara bendera memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus lalu di sekolah ini. Mengapa? Ada drama teatrikal bertema pertempuran meraih kemerdekaan, meeeen! Dor! Dor! Duar! 😣


Totalitas!

Bulan pertama PPL ditutup dengan penyembelihan hewan kurban pada Hari Raya Idul Adha 1439H. Tepat pada tanggal 23 Agustus 2018, seluruh warga sekolah dengan antusiasnya menyaksikan penyembelihan hewan kurban di halaman belakang sekolah yang dilanjutkan dengan acara lomba memasak untuk tiap kelas. Bapak/Ibu guru serta karyawan pun tak mau kalah, beliau-beliau menunjukkan kemampuan mumpuninya dalam mengolah daging sapi dan kambing menjadi kudapan makan siang istimewa seperti tongseng sapi, sop tetelan, bakso sapi, gulai kambing, dan masih banyak lagi. Yang paling menyenangkan bagi siswa dan kami pada hari itu sudah pasti adalah --- tidak ada pelajaran! Hahaha.


Para ibu guru idaman mertua



Sebelas MIA Tujuh berperang melawan alotnya daging sapi

 


September dan Segala Kejutannya

Kehidupan PPL sudah saya anggap sebagai gladi kotor dalam menjadi guru kelak. Meski saya tidak tahu kelak akan jadi guru atau tidak sih. Setidaknya saya sudah mendapatkan ilmunya, melaksanakan kegiatannya, tinggal praktiknya di kehidupan nyata saja yang belum. Tidak kalah pentingnya, saat PPL ini saya pun belajar untuk membangun hubungan akrab dan solidaritas dengan semua warga sekolah, tak terkecuali. Hidup tidak hanya sekedar mementingkan diri sendiri, tetapi bagaimana bisa menjadi hujan di tengah gurun. Doakan saya agar bisa dan istiqomah dalam menjadi guru. Kelak, entah kapan.

Bulan kedua PPL kami lebih banyak diisi dengan kegiatan praktik mengajar di kelas dan pelaksanaan PTK atau Penelitian Tindakan Kelas yang memang sudah sejak awal lokakarya sering disinggung oleh dosen. PTK adalah wajib, namun bisa mengajar dengan baik dan benar adalah prioritas. Tak banyak yang saya usahakan dalam PTK yang notabene adalah PTK pertama saya. Saya lebih banyak fokus pada cara mengajar, eksekusi pembelajaran, time-management, dan class control dalam setiap kali saya praktik mengajar. From zero to hero.

Hal yang sedikit membuat kami bersedih di bulan kedua kami adalah perpisahan dengan dua mahasiswi PPL S1 UII yang selama kurang lebih satu bulan sudah membersamai kami. Banyak hal yang sudah kami lalui saat berjuang bersama, dengan tawa maupun duka. Karena mereka hanya diwajibkan untuk PPL selama satu bulan, secara resmi 1 September 2018 mereka sudah kembali ke universitas lagi untuk melanjutkan studi dan fokus mengejar kelulusannya. Doa kami selalu untuk kalian, Fatwa dan Yunita. See you on top. 😉


Kamis Pahing-an


Perpisahan = Foto bareng

Yah, walaupun kami ditinggalkan mereka berdua, selang beberapa hari kemudian datanglah 18 orang mahasiswa PLT S1 dari almamater yang sama dengan kami, UNY. Mereka akan membersamai kami dalam menikmati hari Senin-Jumat di sekolah Teladan ini untuk selanjutnya selama 2 bulan ke depan. Rameeeee.

Oktober Adalah Muara dari Berbagai Sumber

Kesibukan mengajar, menulis catatan harian, menyicil laporan, maupun jaga piketlah yang mungkin membuat saya merasa hari-hari PPL ini berlalu begitu saja. Memasuki bulan Oktober, pembelajaran sudah mulai terasa lebih serius karena Penilaian Akhir Sekolah (PAS) pun semakin dekat. Tak berbeda dengan siswa yang saya ampu, mereka sepertinya menjadi lebih bersemangat dan memperhatikan pelajaran dengan seksama. Nah gini dong.

Di bulan ketiga, tak banyak yang kami lakukan selain mempersiapkan pembelajaran seperti biasanya. Melelahkan. Kami saat ini juga sedang ketar-ketir mempersiapkan ubarampe dan menunggu pengumuman resmi dari pihak kampus terkait Uji Kinerja, Uji Tulis Lokal dan Uji Tulis Nasional yang kelak akan menentukan kelulusan kuliah profesi kami. Mohon doanya pembaca sekalian. Semoga semuanya kami lalui dengan lancar.

Oh iya, di bulan ini pulalah pengumuman pendaftaran CPNS/ASN 2018 mulai dibuka oleh pemerintah. Kami bertujuh yang notabene sudah memiliki ijazah S1 dan memang ingin mengabdi kepada negara demi tunjangan dan uang pensiun tak mau begitu saja melewatkan kesempatan ini. Kami melengkapi berkas-berkas persyaratan untuk pendaftaran dan mulai memilih-milih lokasi mana yang akan menjadi tujuan kami. Saya memilih salah satu SMA Negeri di Yogyakarta yang jaraknya tak jauh dari rumah saya, mungkin hanya sekitar 20 menit dengan mengendarai sepeda motor. Setelah yakin saya memilih sekolah tersebut, finalisasi, dan pencetakan kartu pendaftaran pun saya lakukan.

Belajar CPNS everyday~

Sekitar satu minggu setelah finalisasi, ada pengumuman bahwa saya dan keenam teman PPL saya lolos verifikasi berkas. Artinya apa? Kami harus segera mempersiapkan tahap selanjutnya sebaik mungkin. Kami sering belajar bersama di perpustakaan bila hari itu tidak ada jadwal mengajar atau piket. Mencoba mengerjakan soal-soal dan bertukar ilmu demi Tes SKD yang akan kami laksanakan awal November nanti. Seperti apa ya tesnya? Sepertinya akan menegangkan. Doakan semoga saya lolos ke tahap selanjutnya.

Dan saya mohon doakan agar PPL saya tuntas mulus tanpa halangan suatu apapun. PPL ini akan berakhir satu bulan lagi. Terkadang saya berpikir bagaimanakah kehidupan sehari-hari saya setelah PPL? Kesibukan yang kadang membuat saya pusing ini akankah berlalu? Keakraban yang kami jalin setiap hari ini haruskah berakhir begitu saja? Let’s see.






SMA Negeri 1 Yogyakarta, 23 Oktober 2018
Bersambung...

Post a Comment

0 Comments