Voyage Chapter 28: Pantai Watu Lumbung, Pesona Tersembunyi yang Tak Tertandingi

Sebagai manusia yang sudah sejak kecil sering diajak orang tua menikmati hembusan angin laut dan melihat gagahnya ombak yang memecah sendu, tidaklah berlebihan kalau menyebut bahwa saya sudah bersahabat dengan pantai. Jika diminta memilih antara pantai atau gunung, jawaban saya sudah pasti pantai. Entah. Sepertinya memang ada benang tak terlihat di sanubari saya yang menghubungkan pantai dengan ruang jiwa saya. Ah.

“My life is like a stroll upon the beach, as near to the ocean’s edge as I can go.” – Henry David Thoreau

Pantai memang sudah seperti tempat yang dekat dengan keluarga saya. Pasalnya, setiap kali seisi rumah libur, pantailah tujuan kami untuk menghabiskan waktu, sejak saya masih kecil. Dulu, waktu masih ada kakek nenek, berwisata ke pantai rasanya lebih ramai daripada saat ini. Mungkin karena masih banyak anggota keluarga yang bisa diajak. Sekarang biasanya hanya keluarga inti saja yang rutin mengunjungi beberapa pantai ternama di kota ini. Entah sekadar untuk menikmati anginnya yang sejuk atau menyicip lezatnya kuliner laut yang beragam. Keluarga saya bahkan memiliki salah satu rumah makan laut langganan yang pemiliknya sudah akrab dengan kami layaknya saudara sendiri. 

Berangkat dari kedekatan saya terhadap pantai, tak jarang saya nekat pergi sendiri di luar jadwal wisata pantai keluarga. Sudah dua atau tiga kali rasanya saya seorang diri mengunjungi pantai-pantai indah yang jaraknya sekitar 60-70 km dari rumah. Hal ini bukan semata karena saya ingin menghabiskan waktu seorang diri. Terkadang, menikmati kesendirian di pantai lebih mendekatkan saya dengan diri saya sendiri dan pemahaman saya akan kehidupan ini, berlatar suara ombak yang berbuih dan pasir yang menggelitik telapak kaki.

Beberapa hari lalu, ketika beberapa orang sudah mulai masuk kerja setelah libur Lebaran, saya memberanikan diri mengunjungi salah satu pantai indah di Gunungkidul yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Bukan tanpa alasan, saya benar-benar sedang membutuhkan healing time saat itu, ditambah libur Lebaran saya yang masih lumayan lama. Jadilah, saya berangkat sendirian pada 19 Mei 2021 dengan berbekal kamera, sedikit uang saku sisa THR, dan secuil keberanian. Mengapa keberanian? Yah, semata karena dari yang saya baca dari internet, rute atau jalan menuju pantai yang saya tuju itu memang bisa dibilang lumayan ekstrim dan perlu kehati-hatian untuk mencapainya. Ditambah lagi, sepeda motor saya belum pernah menapaki jalanan terjal di kawasan pegunungan dan pantai di Gunungkidul. Tetap saja, saya berangkat.

Kira-kira pantai apakah yang saya tuju hari itu? Mungkin foto di bawah ini bisa sedikit memberikan gambaran.



Benar, pagi itu saya mengunjungi Pantai Watu Lumbung yang terletak di Desa Balong, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul. Sebenarnya tidak sulit menemukan pantai ini jika tidak malu bertanya pada penduduk atau warga sekitar. Jika menggunakan fitur Maps pada Google, biasanya pengunjung akan dilewatkan rute melalui Pantai Siung. Nah, rute ini SALAH, sebab kemarin saat saya hendak membayar tiket masuk di loket Pantai Siung, bapak petugasnya meminta saya agar berbalik dan melewati rute Pantai Wediombo. Untung saja saya menanyakan lokasi Pantai Watu Lumbung pada beliau, jika tidak, mungkin saya hanya akan mengunjungi Pantai Siung hari itu. Terima kasih, bapak penjaga loket! 😆

Yang saya khawatirkan akhirnya memang terjadi, jalan menuju desa tempat Pantai Watu Lumbung berada memanglah sudah baik dan beraspal, namun jalan yang harus ditempuh menuju pantainya di luar dugaan saya. Hanya sebuah rute sempit (mungkin hanya bisa dilalui sebuah mobil atau dua buah sepeda motor saja) dengan perkebunan penduduk di kanan kirinya. Jalannya pun belum diaspal, hanya disemen seadanya dengan kerusakan di mana-mana. Jangan dibayangkan saya harus melewati kondisi seperti ini dengan jalan yang landai. Sepeda motor saya harus menempuh jalan berliku dengan banyak belokan naik turun dan sedikit curam, yang terbentang sepanjang 2,5 km hingga sampai ke pantai. Untungnya sih, saya bisa tetap fokus mengendarai dengan kewaspadaan ekstra karena segelas kopi yang saya minum sebelum berangkat. Bayangkan saja bila tidak, siapa yang akan membantu saya jika terjadi hal yang tak saya inginkan? Tidak ada penduduk sama sekali. Menguji nyali.

Papan nama di jalan beraspal utama

Gerbang desa memasuki kawasan pantai

Yok bisa yok!


Jalan menuju pantai yang sudah rusak parah

Jika sudah bertemu papan petunjuk ini, kita bisa bernapas lega karena pantai sudah sangat dekat

Bayangan saya akan pantai yang sangat indah memang benar adanya. Walaupun harus menuruni jalan turunan yang curam dengan berjalan kaki selama 10 menit dari arah tempat parkir ke pantainya, pemandangan yang saya dapatkan hari itu langsung saja menghilangkan lelah dan penat. Pantai Watu Lumbung menghampar luas dengan banyak bebatuan besar di bibir pantai yang semakin menambah pesonanya. Memang, tak ada pasir putih menghampar seperti di kebanyakan pantai di Gunungkidul lainnya, namun kesan alami seperti ini justru semakin membuat keindahannya tak tertandingi. Oh iya, ada batu berukuran sangat besar yang terdapat di sana, yang menjadi asal mula nama pantai ini sebab menyerupai bentuk lumbung padi raksasa. 

Parkiran





Pantai sudah mulai terlihat setelah 5 menit berjalan menuruni bukit





Batu raksasa yang menyerupai lumbung padi jaman dulu



Teman setia saya saat bepergian sendirian

Pantai Watu Lumbung pada hari biasa di waktu pagi masih sangat sepi. Pagi itu sekitar pukul 09.00 WIB, pengunjung di pantai ini hanyalah saya dan dua orang bapak-bapak yang memancing ikan di sekitar batu karang besar yang menjadi trademark pantai ini. Beberapa lama setelahnya datang sepasang pemuda yang menikmati segarnya air laut sambil berfoto. Sepertinya memang waktu yang tepat jika mengunjungi pantai ini di hari biasa dan pagi-pagi sekali. Saya berangkat dari rumah sekitar pukul enam pagi lebih sedikit. Yah, memang harus mau menembus dinginnya Gunungkidul.

Sekitar dua jam saya berada di pantai ini. Bercengkerama ringan dengan dua pemancing tadi, memainkan lensa demi foto yang presisi, berjalan di bebatuan karang yang menggelitik kaki, dan mencoba menghargai keberanian diri. Berani menghargai jerih payah sendiri, berani melawan ketakutan yang tak pernah pergi, dan berani menciptakan standar kebahagiaan tanpa intervensi. Sebab sejatinya, keberanian hanyalah sikap untuk berbuat sesuatu tanpa terlalu merisaukan kemungkinan-kemungkinan buruk yang akan menghampiri.


Yogyakarta, 28 Mei 2021






Post a Comment

1 Comments