Voyage Chapter 22: Bali, Tempat untuk Berdamai dengan Diri Sendiri

Kehidupan kita di dunia tidak akan bisa terlepas dari pertukaran. Saat kita ingin memiliki suatu barang, harus ada uang yang digunakan sebagai alat penukarnya. Saat kita ingin memiliki banyak uang, harus ada pekerjaan dan tenaga untuk menebusnya. Pun dengan kepintaran dan ilmu pengetahuan, harus ada kesungguhan belajar untuk mendapatkannya. Semua itu tidak bisa begitu saja ada di depan kita. Dunia ini mengikat. Pasti. Penuh dengan pertukaran yang terkadang membuat kita menyadari pentingnya hal-hal yang sudah kita miliki selama ini.

“The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.” - Marcel Proust


Beberapa hari lalu saya juga mengalami pertukaran yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Saya menukarkan waktu dan tenaga saya dengan orang-orang dan pengalaman yang sangat berharga.

Oh iya, mungkin bukan hal yang mengherankan jika di sini saya bercerita seputar perjalanan saya ke berbagai tempat, karena blog ini juga awalnya saya tujukan untuk hal tersebut. Namun berbeda dengan cerita saya kali ini, perjalanan yang akan saya ceritakan bukan termasuk yang saya rencanakan jauh hari sebelumnya, namun entah mengapa sama berharganya. Bahkan jauh lebih berharga.

Semua bermula di sebuah hari Senin yang cerah di akhir November 2019. Saya berangkat ke kantor seperti biasanya. Hari itu berjalan seperti biasanya. Setelah mengambil segelas teh hangat manis di pantry seperti biasanya, saya kembali ke meja saya seperti biasanya. Rekan-rekan satu ruangan juga giat bekerja di depan PC masing-masing seperti biasanya. Tidak ada yang spesial hari itu, semua seperti biasanya. Sampai akhirnya, atasan saya tiba-tiba nyeletuk, “Mas Saras, besok tanggal 4 ikut saya ke Bali ya. Ada program sertifikasi. Bu Tini nggak bisa hadir soalnya. Mas yang gantiin, ya.”

And the magical story began.

Jadi, saya mendapat semacam keberuntungan akhir tahun. Ada tugas kantor di Universitas Ngurah Rai, Denpasar selama 4 hari. Akomodasi transport, hotel, dan makan ditanggung kantor. Dikasih uang saku pula. Jackpot. Kesempatan yang mungkin nggak akan datang lagi nantinya. Wajah saya seharian itu mungkin mirip udang rebus, merah merona saking bahagianya. 🦐

Beberapa hari kemudian. Setelah memastikan tiket pesawat di gawai serta ransel dan koper di tangan, saya dan atasan saya, Mas Deinza bertolak menuju Denpasar dari bandara Adi Sucipto pada tanggal 4 Desember 2019 pukul 07.30 WIB. Hari itu langit sangat cerah, awan juga tak banyak terlihat. Pagi yang indah dan menenangkan, teriak saya dalam hati. Perjalanan menuju Bali memakan waktu kurang lebih satu setengah jam. Kami sampai di Bandara Ngurah Rai pukul 10.05 WITA. Bali sangat terik pagi itu, tidak jauh berbeda dengan saat pertama kali saya mengunjunginya, bulan Oktober tahun 2010 lalu.



Hari Pertama
Perjalanan dari bandara ke toko oleh-oleh Joger dan Krisna tidak begitu lama. Benar, kami membeli oleh-oleh di awal karena jadwal kegiatan kami akan berlangsung hingga sore setiap harinya. Padahal, pesawat pulang kami akan bertolak tepat setelah magrib. Daripada terburu-buru dan kehabisan waktu, kami memilih untuk membeli oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman di kantor di awal kedatangan kami. Tak banyak yang kami beli, hanya kacang Bali, pai susu, keripik buah, skincare Bali, aromaterapi Bali, kopi Bali, dan beberapa merchandise seperti kaus, sandal, ataupun cangkir. Tak banyak pengunjung yang datang ke Joger maupun Krisna pada hari itu, maklum, belum weekend dan siang hari.

Suasana natal di Joger



Another lucky number of mine!



Jemari saya menari. Menjumlahkan barang-barang untuk diberikan pada keluarga dan teman-teman. Setelah selesai dengan urusan oleh-oleh, kami memesan ojek online dan segera menuju hotel Vasini untuk check-in. Lelah. Perjalanan 45 menit menuju hotel saat itu terasa sangat cepat. Begitu sampai di hotel, Mas Deinza melambaikan tangan saat saya ajak berjalan-jalan keliling Denpasar. Kelelahan, beliau memutuskan untuk beristirahat di kamar saja. Saya, yang saat itu masih terkesima dengan city scape Denpasar, tak sabar segera berganti pakaian dan ngelayap ke sudut-sudut kota yang bisa saya jangkau.


Pertama, saya mengunjungi Lapangan Puputan Margarana di Jl. Raya Puputan Renon, Denpasar Timur. Saya sampai di sana sekitar pukul 16.00 WITA. Lapangan ini luaaaaaaas sekali. Sore itu matahari menyapa, terik sekali, udara terasa sangat panas. Walau begitu, tetap banyak warga sekitar yang berolahraga di lapangan ini. Ada yang bermain sepak bola, jogging, maupun senam. Ramai sekali.




Menurut yang saya baca di Wikipedia, puputan adalah istilah yang menggambarkan semangat yang membara dari masyarakat Bali berupa perlawanan habis-habisan sampai mati terhadap penjajah. Puputan atau Perang Puputan berarti perang sampai titik darah penghabisan hingga orang terakhir. Perang ini tidak hanya melibatkan para ksatria saja melainkan seluruh warga dari semua kalangan, baik raja maupun rakyat jelata, baik laki-laki maupun perempuan hingga anak-anak ikut berperang hingga titik darah penghabisan. Keren. Pemerintah Provinsi Bali membuatkan lapangan umum dengan nama Puputan untuk mengenang semangat perang puputan rakyat Bali melawan penjajah. Di Kota Denpasar sendiri ada dua lapangan umum dengan nama Puputan, salah satunya Lapangan Puputan Margarana Nitimandala Renon atau warga menyebut dengan nama lapangan Puputan Renon. Uniknya, lapangan ini punya ciri khas tersendiri, di tengah-tengah lapangan ada sebuah bangunan yang menjadi ikon kota Denpasar. Monumen itu dinamai Monumen Bajra Sandhi yang artinya genta suci. Sesuai namanya, monumen ini memiliki arsitektur berbentuk genta.

Saya menghabiskan sepanjang sore saya di lapangan ini, mengambil foto monumen, menyaksikan pertandingan sepakbola anak-anak, duduk menonton warga sekitar yang sedang senam dan jogging, serta bercengkerama dengan para penjual di pinggiran lapangan. Walaupun cuaca cukup panas sore itu, rasanya menyenangkan. Kembali saya menukarkan tenaga dan waktu saya untuk beberapa foto dan atmosfer yang berharga.





Monumen Bajra Sandhi
  



Ibu-ibu sedang senam


Saya segera menuju Pasar Seni Kumbasari ketika jarum jam tangan saya menunjukkan pukul 18.00 WITA. Adalah satu hal yang selalu saya lakukan ketika melancong atau bepergian ke luar kota. Benar, mengunjungi pasar tradisional setempat. Saya selalu ingin tahu dengan apa yang diperjualbelikan oleh penduduk setempat. Mulai dari makanan tradisional, pakaian, ataupun hal-hal lainnya. Pasar Seni Kumbasari yang bersebelahan dengan Pasar Badung ini terletak di Kota Denpasar. Pasar ini juga tak jauh berbeda dengan pasar-pasar tradisional di daerah saya. Banyak penjual sayuran, buah-buahan, pakaian, maupun jajanan tradisional.

Beberapa hal di pasar ini sempat membuat saya bergidik dan mengernyit. Ada beberapa kios penjual daging babi yang memajang kepala babi yang sudah terpotong rapi. Baru kali itu saya melihatnya. Ada beberapa kios penjual ikan segar yang menjajakan dagangannya dengan cara menumpuk puluhan kilogram ikan dalam satu ember besar dengan dialiri air dari beberapa sisi. Ada juga pedagang tahu putih yang menempatkan ratusan potong tahunya dalam sebuah bak besar berisi air agar pembeli bisa memilih sendiri. Mengesankan. Banyak pula sayur dan buah yang baru saya lihat untuk pertama kalinya. Yah, walau saya hanya membeli kue tradisional yang disebut “bantal” oleh penjualnya (karena di Jogja nggak ada), sensasi berbelanja di pasar tradisional ini cukup menambah pengalaman. Dan sebuah pertukaran berharga kembali terjadi lagi.








Kue 'bantal' yang berisi beras ketan dan irisan pisang
Hari Kedua
Mengawali hari kedua di Bali, saya sarapan dengan jajanan Bali berbentuk bunga yang tak saya ketahui namanya. Rasanya manis, teksturnya lembut dengan aroma pandan. Hari itu adalah hari pertama Program Sertifikat Guru BIPA Level 3 yang akan kami ikuti selama tiga hari di Universitas Ngurah Rai, Denpasar. Mengikuti program ini merupakan aktualisasi salah satu aktivitas departemen penelitian dan pengembangan di kantor tempat saya bekerja. Setiap harinya selama tiga hari mulai pukul 08.00-17.00 WITA, kami akan mengikuti seminar dengan pembicara Dr. Nyoman Riasa, seorang pegiat BIPA senior yang juga Ketua APBIPA Bali.


Interior resto di Hotel Vasini




Selesai mengikuti seminar, kami kembali ke hotel. Seperti hari sebelumnya, Mas Deinza memutuskan untuk beristirahat di kamar sementara saya kembali ngelayap. Kali itu, saya nggak ngelayap sendirian, ada salah satu teman lama yang saya ajak. Dia tinggal di daerah Canggu, sekitar 30 menit dari Denpasar. Nama kami mirip, saya Saras Bayu, dia Saras Ayu. Kepribadian kami pun nggak jauh beda, sama-sama suka ribut kalau bercerita. Saras mengajak saya menghabiskan malam itu untuk bercengkerama, sepertinya sih dia mau curhat banyak. Setelah mandi, saya meluncur menuju Warung Madu Bali tempat kami janjian bertemu, yang terletak di kawasan Dauh Puri Klod, Denpasar. Udara malam itu tak berbeda dengan siang harinya. Geraaaah.




Saya dan Saras menghabiskan waktu bercerita tentang kehidupan masing-masing setelah menjadi dewasa, bertukar pikiran tentang dunia pendidikan di negeri ini sekarang karena kami sama-sama berkecimpung di dunia itu, menceritakan kisah pilu tentang hubungan percintaan masing-masing, diskusi tentang rencana liburan Saras ke Jogja tahun depan, juga bagaimana hebohnya dia mengajarkan saya beberapa kata dalam bahasa Bali (terutama umpatan 😂). Hangat. Udara malam itu, dan pembicaraan kami. Come to Jogja real fast, Ras! It’s my turn to treat you snacks!

Saras on the left, Saras on the right


Accidentally wearing the same watch!


Our signature pose

Can't resist that meaty pizza!

Sedotan di Bali kebanyakan terbuat dari kertas

Hari Ketiga
Hari ketiga di Bali saya awali dengan sarapan beberapa potong buah dan jajanan bali berwarna hijau pandan yang mirip kui serabi. Semoga hari itu manis, harap saya dalam hati. Rencananya, selesai seminar, saya akan mengunjungi Pantai Sanur untuk menikmati sore hari. Masa iya ke Bali tapi nggak ke pantainya? Kami juga memutuskan untuk mencoba ayam betutu khas Gilimanuk di daerah Renon sebagai makan malam kami.


Sayangnya, kami terlambat. Sampai di Pantai Sanur (kurang lebih 20 menit dari hotel Vasini menggunakan GoRide kalau nggak macet), matahari sudah terbenam. Gelap. Banyak orang, tapi tidak terlihat apa-apa. Hahaha.

With my department manager, Mas Deinza
Ya sudahlah. Kami langsung menuju rumah makan ayam betutu khas Gilimanuk di kawasan Sumerta Kelod, Kecamatan Denpasar Timur untuk makan malam. Ini kali pertama dalam hidup saya untuk mencoba ayam betutu. Ayam betutu khas Gilimanuk ini adalah hidangan Bali yang sangat popular di kalangan turis. Tampilannya menggugah selera, ayam dimasak dengan bumbu berwarna kuning dengan irisan cabai, plecing kangkung, kacang tanah goreng, dan sambal matah. Di luar bayangan, bumbu kuningnya terasa sangat kaya, rempah-rempahnya sangat tajam, dan rasa yang paling menonjol adalah … PEDASSSSS.






Hari Terakhir
Tidak terasa, saya memasuki hari terakhir di Bali. Pagi itu, saya memutuskan untuk kembali mengunjungi Pantai Sanur, kali itu bertujuan untuk menyaksikan indahnya sunrise. Beruntung, pagi itu, sekitar pukul 05.30 WITA, jalanan masih lengang, langit masih gelap saat saya sampai di pantai. Sembari mencari spot foto yang bagus, saya mengamati keadaan sekitar. Banyak orang mengunjungi pantai ini. Ada yang baru pulang dari jogging, ada yang mengajak keluarga besarnya, ada pula yang membawa anjing peliharaannya. Cukup ramai.


Sejurus kemudian, tangan saya mengeluarkan kamera dari tasnya. Jemari saya mengatur shutter speed dan aperture. Lantas memutar lensa fokus manual dan membidik beberapa tempat. Laku yang lumrah dilakukan sebagai seorang fotografer pemula yang suka mengabadikan suasana sekitar. Khususnya, saat waktu yang bisa terabadikan tidak berlangsung lama. Sunrise pagi itu indah sekali. Matahari terbit dengan sangat menawan. Ombak pantai bergulung kecil. Pasir putih menghampar dengan indahnya. Sungguh pemandangan pagi yang tak bisa dilupakan.









Sesaji yang disediakan oleh masyarakat sekitar

Frangipani atau Jepun Bali, di setiap sudut jalan pasti bisa ditemui





Selepas dari pantai, saya bertolak menuju Pura Agung Jagatnatha di samping Lapangan Puputan Badung untuk menyaksikan upacara keagamaan. Hari itu, adalah salah satu hari spesial bagi umat Hindu di Bali. 7 Desember 2019 adalah Sabtu Umanis Wuku Watugunung, yang diperingati setiap enam bulan sekali sebagai Hari Raya Suci Saraswati. Itu adalah hari yang penting bagi umat Hindu, khususnya bagi siswa sekolah dan pegiat dunia pendidikan karena mereka mempercayai hari Saraswati adalah turunnya ilmu pengetahuan yang suci kepada umat manusia untuk kemakmuran, kemajuan, perdamaian, dan meningkatkan keberadaban umat manusia.

Sembari menaiki ojek online, saya mengamati banyak sekolah khususnya SD yang mewajibkan siswanya memakai pakaian yang biasa dikenakan untuk sembahyang di pura, yaitu kain sarung, kemeja putih dan udeng (untuk siswa laki-laki), dan kain Bali serta kebaya Bali (untuk siswa perempuan). Tidak ada pelajaran hari itu, mereka fokus melakukan upacara menghormati Dewi Saraswati. Ada mitos yang saya dengar bahwa pada hari Saraswati, umat tidak diperbolehkan untuk menulis atau membaca. Hmm. Menarik.

Saya sampai di Pura Agung Jagatnatha sekitar pukul 08.00 WITA. Upacara belum dimulai, namun sudah banyak umat yang datang dan duduk-duduk di sekitar pura. Kebanyakan dari mereka masih siswa SMP sepertinya. Berbekal rasa ingin tahu lebih jauh tentang Hari Raya Suci Saraswati, saya beranikan diri mendekati sekumpulan anak SMP yang sedang bercengkerama, memperkenalkan diri saya, dan menanyai mereka sejauh yang saya bisa. Saya berkenalan dengan Kadek Nadya, salah satu siswi di sebuah SMP di Denpasar. Sambutan Nadya dan teman-temannya hangat, bahkan beberapa dari mereka sempat mengajak saya bercanda. Setelah mengucapkan terima kasih dan mengajak foto bersama, saya pamit pulang. Upacara  akan segera dimulai pagi itu, dan saya juga harus menghadiri seminar.




Rahajeng rahina suci Saraswati for you all!



Sore harinya, setelah seminar akhirnya secara resmi ditutup dan berfoto bersama narasumber, saya dan Mas Deinza mengemasi barang bawaan kami lantas segera bertolak menuju bandara untuk kembali pulang ke Jogja. Sedih sebenarnya harus meninggalkan pulau dewata ini, mengingat belum banyak tempat yang saya kunjungi di sana. Namun perjalanan empat hari tiga malam itu tidak akan saya lupakan. Bertemu dengan orang-orang baik dan membawa pulang pengalaman berharga. Tentang bagaimana pertukaran senantiasa terjadi, tentang bagaimana memahami perbedaan dari semua sisi, tentang bagaimana berdamai dengan diri sendiri.

Bersama Dr. Nyoman Riasa, Ketua APBIPA Bali

See you when I see you, Dewata!


Yogyakarta, 9 Desember 2019


Post a Comment

0 Comments