Voyage Chapter 36: Pertama Kali ke Singapura, Ternyata Sangat Terik!


Bangku-bangku di depan gerbang Yogyakarta International Airport pagi itu, Jumat, 09 Juni 2023 masih terlihat lowong. Beberapa orang yang datang duduk saling berjauhan satu sama lain. Waktu sudah menunjukkan pukul 05.10 WIB dan saya masih duduk manis di samping tas travel saya, dengan kedua tangan mengepal di dalam saku jaket. Dingin sekali udara di sekitar bandara hari itu. Mbak Elisa sibuk dengan ponsel barunya, mengambil foto di sekitar bandara sebanyak mungkin, dan sesekali mengajak saya berswafoto. Langit Kulon Progo pagi itu terlihat sangat cantik dengan warna merah muda dan semburat oranye, dengan Gunung Merapi sebagai objek pelengkapnya.

"It is not down in any map, true places never are." – Herman Melville

Hari itu, saya, Mbak Elisa, dan beberapa peserta tur lainnya akan bertolak menuju Singapura dari Yogyakarta. Pesawat AirAsia dengan tujuan Changi International Airport akan berangkat pukul 07.25 pagi sehingga kami harus berada di bandara 2 jam sebelumnya untuk mengurus check-in, pengecekan boarding pass, imigrasi, dan lainnya. Setelah memastikan semua peserta sudah hadir dan menyiapkan paspor serta boarding pass masing-masing, pemandu tur segera meminta kami untuk segera memasuki departure gate dan selanjutnya antre di imigrasi. Kami selesai melakukan pengecekan di imigrasi sekitar pukul 06.10 WIB dan selanjutnya menunggu di ruang tunggu. Mbak Elisa masih saja sibuk berfoto dengan ponsel barunya. “Mumpung memorinya masih banyak,” ujarnya demikian. 

Kami menunggu sekitar satu jam lebih hingga akhirnya pesawat datang. Setelah antre pengecekan dokumen dan lain-lain, akhirnya kami duduk manis di dalam pesawat. Saya selalu bahagia jika berhasil mendapatkan window seat alias kursi di samping jendela di setiap flight ke mana pun. Rasanya seperti benar-benar terbang sendiri, bisa melihat gumpalan awan yang berarak dan langit yang biru membentang luas. Terlebih lagi jika bandara tujuan berada sangat dekat dengan laut. Birunya air laut selalu bisa menyihir mood saya menjadi sangat baik seharian. 





Sebiru hari itu

Mengudara di Langit Singapura

Pesawat mengudara dengan tenang di langit Indonesia-Singapura selama sekitar 2 jam hingga akhirnya kami berhasil mendarat di Bandara Internasional Changi tanpa turbulensi yang berarti. Saya hanya dibuat bingung oleh ponsel saya. Perasaan tadi terbangnya hanya sekitar dua jam, lah kok jam di layar sudah menunjukkan pukul 10.30? Ternyata hal ini disebabkan oleh pengaturan waktu otomatis di ponsel saya, dan memang zona waktu di Yogyakarta dan Singapura terpaut 1 jam. Hal ini yang menjadikan perjalanan 2 jam pagi itu terlihat seperti 3 jam.

Bersiap turun dari pesawat, segera kami mengemasi barang bawaan kami dan berjalan keluar menuju loket imigrasi. Bandara Internasional Changi menurut saya memang pantas disebut sebagai salah satu bandara tersibuk di dunia. Betapa tidak, begitu keluar dari arrival gate, sudah banyak sekali orang yang terlihat lalu lalang, tentu dengan menenteng koper atau tas ranselnya. Sangat berbeda dengan pemandangan yang saya lihat di Bandara Yogyakarta beberapa jam sebelumnya. Dan meskipun Changi ini selalu penuh oleh wisatawan, kebersihannya benar-benar dijaga dengan baik. Saya terlampau kagum dengan toiletnya, sangat canggih! Mengapa demikian? Coba saja kunjungi sendiri, haha. 😜

Antrean di loket imigrasi benar-benar mengular sangat panjang. Mungkin ada sekitar setengah jam kami harus menunggu hingga akhirnya dilakukan pengecekan oleh petugas. Saya sih senang-senang saja menunggu di antrean panjang di Changi. Banyak hal menarik yang bisa saya saksikan sambil menunggu. Salah satunya adalah langit-langit yang tinggi dengan ornamen khas yang bergerak dengan indahnya. Oh iya, mungkin karena sudah sangat sering menerima wisatawan dari Indonesia dan Malaysia, saya tak merasa khawatir dengan teman-teman di rombongan yang kurang mahir menggunakan Bahasa Inggris saat harus lapor dan menyerahkan paspor ke loket imigrasi untuk perekaman identitas. Toh, petugas di sana juga bisa berbahasa Melayu atau Indonesia. 



Bersantai di Jewel

Tak lama, akhirnya rombongan tur sudah selesai dengan pengecekan di imigrasi. Mbak Vinie selaku pemandu segera meminta kami bergegas mengantre di pintu keluar untuk menaiki bus gratis menuju Jewel. Kurang lebih sekitar 15 menit kami menaiki bus tersebut. Begitu sampai di depan Jewel dan turun dari bus, teriknya matahari rasanya membakar kulit kami. Ternyata ada yang lebih panas dari Kota Semarang, pikir saya siang itu. Jewel Changi merupakan taman dengan pusat perbelanjaan bertema alam dengan air terjun yang sangat megah. Lokasinya masih berada di sekitar bandara. Tempat ini dibuka pada 17 April 2019 dan menempel dengan terminal 1 kedatangan. Begitu memasuki Jewel, udara berangsur sejuk dan dingin. Rasanya enggan keluar lagi. 

Kami segera turun menuju area Shiseido Forest Valley yang merupakan hutan buatan dengan pencahayaan di sinar matahari alami dan memiliki air terjun besar sebagai pusatnya. Ini mungkin adalah sudut foto paling ikonik di Jewel. Terbukti banyak sekali pengunjung yang mengantre untuk mengabadikan gaya andalan mereka di beberapa sudut. Tak ketinggalan juga saya dan Mbak Elisa tentunya. Kurang lebih kami menghabiskan 1 jam di tempat ini dan segera memasuki minibus milik travel yang sudah menjemput kami di depan Jewel untuk berpindah ke destinasi selanjutnya siang itu.

Selama sekitar satu jam kami duduk manis di dalam minibus yang melaju kencang di jalan raya Kota Singapura yang siang itu cukup lengang. Saya mengamati jalanan di tengah kota yang terlihat bersih dan rapi. Masih banyak pepohonan dan rerumputan menghijau walau jalan raya ini terletak di pusat kota. Hanya sedikit pengendara sepeda motor yang saya lihat, sungguh pemandangan yang berbeda dengan yang biasa saya lihat di kota saya. Meskipun Singapura adalah negara berukuran kecil, ternyata kotanya tidak terlihat begitu padat akan rumah-rumah atau pertokoan. Ada banyak halaman atau kebun menghijau di depan perumahan yang sempat saya amati. Yah, mungkin karena tanah di sini harganya sangat amat mahal menjadikan banyak pendatang berpikir ulang untuk membeli hunian di tengah kota.


Sudut foto paling populer di Jewel

Menikmati Nasi Padang di Singapura

Tak lama, kecepatan minibus menjadi pelan dan akhirnya berhenti. Kami sudah sampai di destinasi berikutnya yaitu Muscat Street. Dan sama seperti sebelumnya, begitu keluar dari dalam minibus, sinar matahari dengan teriknya menyinari tubuh saya. Panas sekali siang itu. Saya segera membuntuti rombongan yang sudah menepi di bawah kanopi-kanopi jendela Rumah Makan MINANG yang terletak tak jauh dari gapura masuk Muscat Street. Memang, agenda kami selanjutnya adalah makan siang di rumah makan tersebut. Dari namanya saja pasti sudah bisa menebak menu apa saja makan siang hari itu. Benar, menu-menu masakan khas Padang, Indonesia. Mungkin karena di rombongan kami ada banyak bapak ibu asli Indonesia yang bisa saja kurang cocok lidahnya dengan makanan asli daerah sana, sehingga pemandu memutuskan untuk membawa kami ke rumah makan tersebut. Saya sih ikut saja, toh pasti rasanya juga sedikit berbeda dengan masakan di warung makan Padang langganan saya di dekat kantor, haha. 

Sebenarnya ada banyak sekali macam lauk dan sayur yang tersaji di etalase kaca di samping kasir. Namun mata saya tertuju pada tongkol balado yang terlihat sungguh menggugah selera. Saya segera menyebutkan lauk dan sayur pilihan saya kepada mas-mas penjaga di belakang etalase, tak lupa juga saya memesan minuman es limun segar berwarna merah muda dengan semburat kuning cerah. Saya agak kaget ketika selesai melakukan pembayaran di kasir. Menu makan siang sederhana yang saya pesan dibanderol dengan harga 10.5 dolar Singapura atau sekitar Rp116.000. Yah, namanya juga Singapura, untuk sekadar makan saja benar-benar tidak boleh terlalu kalap di sini. Bisa-bisa uang saku langsung habis, haha.

Masjid Sultan yang ikonik

Pakai sunglasses biar nggak silau

Di titik ini rasanya pengen mandi air dingin


Makan ginian di Indonesia paling 20.000an kan?

Kamu mahal tapi kenapa enak :(

Setelah menikmati makan siang dan salat di Masjid Sultan yang berada di dalam Muscat Street, kami kembali menaiki minibus karena waktu sudah hampir sore. Tujuan kami selanjutnya adalah kawasan Merlion Park yang membutuhkan sekitar setengah jam menaiki kendaraan dari Muscat Street. Kami sampai di sana sekitar pukul 15.30 waktu setempat. Walau sudah agak sore, langit masih terlihat sangat cerah dan udara di sekitar kami masih terasa panas. Merlion Park sendiri merupakan salah satu tujuan utama para pelancong yang mengunjungi Singapura. Pasalnya, di kawasan taman ini terdapat patung Merlion yang bisa dibilang adalah maskot negara kecil ini. Kami diberikan waktu selama 30 menit oleh pemandu tur untuk menikmati waktu di sini. Segera saja saya ajak Mbak Elisa untuk mencari sudut berfoto terbaik dan mengabadikan beberapa jepret foto di sana. Walaupun udara terasa panas, percikan dari air mancur yang keluar dari mulut sang singa Merlion nyatanya dapat sedikit menyegarkan tubuh saya sore itu. Saya bahkan baru tahu kalau air mancur tersebut ternyata memercik ke mana-mana. 

Mungkin hanya sekitar sepuluh menit kemudian minibus kami mendarat di destinasi selanjutnya, yakni Gardens by The Bay. Gardens by the Bay adalah sebuah taman dengan luas area sekitar 101 hektar yang pertama dibuka pada tahun 2012 silam. Tempat wisata ini menawarkan liburan yang tak hanya menghibur dan menenangkan, tetapi juga sekaligus mengedukasi. Pengunjung bisa mengamati tak hanya beragam tamanan lokal, tetapi juga aneka tanaman yang jarang mereka lihat. Koleksi Gardens by the Bay berasal dari berbagai habitat berbeda, dari yang beriklim dingin hingga hutan hujan tropis. Karena waktu kami di sini hanya sebentar, kami tidak mengunjungi semua area yang begitu banyak. Kami memanfaatkan sedikit waktu tersebut untuk berfoto di Supertree Grove saja, yang merupakan kebun vertikal yang berukuran besar. Hingga akhirnya jam tangan menunjukkan pukul setengah lima sore waktu setempat. Pemandu tur segera menyuruh kami untuk memasuki minibus dan menuju ke destinasi selanjutnya yakni Universal Studios yang letaknya tak begitu jauh dari Gardens by The Bay. Kira-kira sekitar 20 menit perjalanan, kami akhirnya sampai di Universal Studio Singapore atau yang biasa disingkat dengan USS. Sore itu lumayan banyak pengunjung yang datang. Ada yang sedang berbelanja di pertokoan, menikmati atraksi atau wahana hiburan, berfoto dengan globe raksasa yang ikonik, maupun sekadar duduk bercengkerama dengan pengunjung lainnya. 

Saya dan Mbak Elisa hanya berfoto di depan globe raksasa dan membeli beberapa macam cokelat di toko tak jauh dari globe Universal. Rasanya haus sekali sore itu. Setelah membeli teh hijau dingin di salah satu toko, saya mengajak Mbak Elisa kembali ke titik kumpul di lantai bawah untuk berkumpul bersama rombongan lainnya. Di sana, pemandu kami sudah menunggu. Setelah berhitung dan semua peserta tur lengkap, kami segera menaiki minibus dan menuju ke destinasi selanjutnya, yaitu Orchard Road dan Bugis Street. 

Selesai foto di sini terus basaahhhh




Bingung memilih cokelat

Hari Sudah Semakin Sore

Lebih dari 20 menit waktu yang ditempuh oleh minibus untuk sampai di Orchard Road yang sore itu lumayan ramai oleh pengunjung. Orchard Road merupakan sebuah kawasan yang melambangkan megahnya ritel dan hiburan. Jalan yang sering kali disebut singkatannya saja, “Orchard” telah menjadi magnet bagi para wisatawan dan penduduk lokal. Karena jam sudah menunjukkan pukul 18.30 waktu setempat, kami segera berjalan kembali menuju minibus untuk bertolak ke destinasi terakhir kami hari itu yakni Bugis Street yang tak jauh lokasinya dari Orchard Road. 

Bugis Street merupakan daerah belanja yang paling terkenal di Singapura yang letaknya sangat strategis di pusat kota. Tempat ini selalu menjadi destinasi utama para pelancong untuk berburu makanan dan buah tangan selain karena barang-barangnya yang lengkap, harganya juga sangat terjangkau. Apa saja yang bisa kita beli di sana? Selain street food atau jajanan murah, di sana juga terdapat banyak cinderamata seperti gantungan kunci, mug, magnet, miniatur, atau pakaian yang berbau Singapura. Di samping itu, ada juga area yang banyak terdapat toko-toko fashion non-brand yang menjual pakaian atau sepatu dengan harga yang bersahabat. Tujuan kami sendiri ke tempat ini adalah untuk membeli oleh-oleh dengan harga miring, juga mencicipi beberapa jajanan di warung kaki lima di area foodcourt. Tak banyak yang saya beli, hanya beberapa buah gantungan kunci, patung Merlion kecil, serta beberapa magnet kulkas dengan ukiran landmark khas Singapura. Saya dan Mbak Elisa juga mencicipi sate ayam (Grilled Spicy Chicken) dengan potongan daging yang berukuran cukup besar seharga 2,50 dolar Singapura atau sekitar Rp27.000 per tusuknya. Bumbunya ternyata lumayan enak hingga membuat Mbak Elisa memutuskan untuk membeli dua tusuk lagi. Kami menikmatinya sembari berjalan menuju pintu keluar di mana pemandu dan minibus sudah menunggu. 


Orchard Road di sore hari

Grilled Spicy Chicken-nya juara!

Sate dan air mineral dingin menjadi hidangan malam yang menutup jalan-jalan kami di Singapura hari itu. Malamnya kami masih harus melanjutkan perjalanan menuju ke negara tetangga, Malaysia, sebagai bagian dari tur ini. Bagaimana ceritanya selengkapnya? Akan saya kisahkan di tulisan saya selanjutnya. Sampai jumpa di sana.


Yogyakarta, 30 Agustus 2023




Post a Comment

0 Comments