Scholarship Hunt: My Chevening Story - Prologue

Bukan hal yang mengherankan kalau setiap orang punya mimpi yang bahkan bisa di luar nalar. Tak terkecuali saya yang kala itu masih tercatat sebagai salah satu siswa di SMP Negeri di Yogyakarta. Berkat dijejali seri novel Harry Potter karya J.K. Rowling semasa itu, entah mengapa saya menjadi begitu menggebu ingin sekali bisa menapakkan kaki di negeri Ratu Elizabeth sana. Dulu saya sempat bercita-cita ingin menjadi salah satu mahasiswa di Universitas Oxford atau Cambridge (karena memang hanya dua kampus ini yang saya tahu saat itu, LOL). Yah, namanya juga ABG, keinginannya tinggi banget ya.

"Study where you can hear yourself think." - Finland University

Namun sayangnya, lambat laun keinginan itu semakin memudar entah ditelan makhluk dari dimensi mana. Selepas SMP, saya melanjutkan sekolah di SMK yang waktu belajarnya lumayan teramat sangat menyita. Saya bahkan tak sempat lagi memikirkan keinginan untuk kuliah, yah semata karena selepas lulus SMK memang saya ingin bekerja dulu untuk menerapkan ilmu yang sudah begitu sulit (dan mahal) saya dapatkan.


Selepas SMK, Tuhan memiliki kehendak lain. Saya yang dengan iseng mengikuti SNMPTN Tulis kala itu (sekarang namanya SBMPTN) dinyatakan lolos dan selanjutnya resmi menjadi mahasiswa S1 Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Negeri Yogyakarta. Walau masih sambil sibuk bekerja part-time, kuliah saya bisa dibilang mulus dan lancar. Saya lulus dalam waktu 4,5 tahun, terhitung cepat untuk jurusan berbahasa Inggris di kampus saya, dan dengan IPK yang lumayan nggak jelek-jelek amat: 3,79.

Saya belajar banyak hal yang berkaitan dengan Bahasa Inggris selama 4,5 tahun kuliah di kampus. Hal-hal yang berhubungan dengan UK alias Inggris sebagai asal muasal Bahasa Inggris juga tak luput saya pelajari, mau tak mau. Entah mengapa, di saat-saat terakhir masa kuliah lalu saya kembali ingin menimba ilmu di negeri Big Ben itu. Beruntung, saya memiliki teman yang sama-sama merindukan Inggris di hati kami (halah). Saya punya sahabat karib, sebut saja Dana, yang sangat bersemangat untuk mencari beasiswa agar bisa terbang dan belajar (dan juga main tentunya) ke UK. Kebetulan dia juga lulusan Pendidikan Bahasa Inggris jadi sedikit banyak tahu lah tentang tetek bengek dunia perbeasiswaan ke UK ini. Nanti saya jelaskan perannya di postingan ini.

Seorang teman dekat yang berasal dari Malang, Mas Jamal namanya, yang pada Oktober kemarin dinyatakan lolos beasiswa LPDP dan telah diterima di jurusan Zoology Universitas Oxford adalah salah satu motivasi saya untuk dapat memiliki hal yang sama. Diterima beasiswa penuh (full scholarship) dan diterima di salah satu universitas top di the majestic United Kingdom adalah kombinasi yang maha dahsyat. 

Mas Jamal jugalah yang memberitahu saya bahwa saya bisa mulai mencicil syarat-syarat untuk beasiswa LPDP dan bahwa beasiswa Chevening dari pemerintah UK sudah dibuka. Awalnya saya ragu dan malas karena membayangkan syarat-syaratnya saja sudah bikin kepala mules dan perut pusing (nah gimana tuh) dan selama seminggu saya mengurungkan niat. Hingga akhirnya saya dimarahi. Dia bilang bahwa syaratnya bisa mulai dibuat sedikit-sedikit dan tenggat waktu penutupan pendaftaran masih lama, sekitar 2 bulan lagi. Hmm baiklah.

Yang Saya Tahu Tentang Chevening Scholarship
Di sinilah peran sahabat karib saya, si Dana tadi, mulai terlihat begitu penting. Entah mengapa dia bertingkah seperti Mas Jamal, menyuruh saya membuat list apa saja yang dibutuhkan untuk mendaftar beasiswa-beasiswa itu, mengajak membuat syaratnya bersama-sama, saling mengoreksi esai sambil wifi-an di perpustakaan kota, dan banyak lagi. Oh iya, kami memutuskan untuk fokus mendaftarkan diri pada beasiswa Chevening (Chevening Scholarship Award) dahulu karena syaratnya yang lumayan mudah didapat dan tenggat waktu pendaftarannya yang tidak lama lagi ditutup. Ini adalah beasiswa pertama yang saya daftari. Chevening Scholarship Award adalah beasiswa penuh (membiayai kuliah, tempat tinggal, akomodasi, event, dll.) dari pemerintah UK, tepatnya dari Foreign and Commonwealth Office (FCO) untuk calon-calon leader dari 160 negara di dunia, untuk penjelasan lengkapnya bisa dibaca di http://www.chevening.org/. Ayo jangan malas membaca lhooo.

Dana yang sedang galau mengisi formulir online

Pada awalnya kami juga sama-sama bingung akan beasiswa Chevening ini mengingat ada persyaratan tak biasa, yaitu harus sudah bekerja selama dua (2) tahun. Nahlo, padahal kami berdua kan fresh graduate nih. Kebingungan itu sirna ketika kami membaca lebih lanjut di http://www.chevening.org/apply/work-experience. Ternyata dua tahun itu tidak melulu kerja di kantor yang sama dan full time job. Jadi, dua tahun atau 2.800 jam adalah akumulasi waktu bekerja kita, bisa di tempat-tempat berbeda. Saya yang bekerja part time sejak tahun 2012 pun berhak mendaftar karena hasil akhir kalkulasi jam bekerja saya bahkan telah melebihi 4.000 jam. So, jangan patah arang dulu sebelum benar-benar meng-cross check persyaratan yang dimaksud panitia Chevening ya.

Persyaratan Umum & Berkas Beasiswa Chevening 
Panitia Chevening Scholarship Award mewajibkan pendaftar untuk memiliki kelengkapan persyaratan untuk bisa mendaftar beasiswa ini. Persyaratan umumnya yang wajib digarisbawahi sih hanya memiliki pengalaman bekerja dua tahun dan mengisi Online Application Form saat kita mendaftar di web-nya. Untuk syarat IELTS atau LoA dari kampus pilihan bisa menyusul nanti setelah dinyatakan diterima oleh beasiswa Chevening, enak kan? Saya sendiri bisa dibilang bermodal nekat mendaftar karena belum memiliki hasil tes IELTS maupun LoA dari kampus pilihan di UK. Ah iya, kita tidak harus mengisi Online Application Form dalam sekali jadi kok, asalkan di-save dulu sebelum log out, bisa dilanjutkan lagi di hari-hari berikutnya.

Online Application Form tersebut berisi beberapa bagian seperti personal details, contact details, undergraduate education, working experience, pilihan jurusan beserta universitas dan lain-lainnya termasuk esai max 500 kata tentang leadership, networking, career plans, dan study in UK. Untuk jurusan dan universitasnya, Chevening memperbolehkan kita memilih tiga jurusan dari tiga universitas yang berbeda (atau sama). Sekedar saran, cobalah bikin research kecil-kecilan dulu untuk menelusuri web-web universitas di UK. Dicatat poin-poinnya di buku tulis lah biar mudah. Penjelasan tentang jurusan, syarat-syarat, dan cara apply-nya lumayan jelas kok. Jangan tiba-tiba tanpa mencari tahu lalu asal pilih di online form ya, biar nggak repot juga sih kalau besok mau daftar ke sana. Sedangkan untuk esainya, saran saya sih bikin dulu jauh-jauh hari dan dikonsultasikan ke teman/orang yang punya kemampuan Bahasa Inggris jauh di atas kita, karena katanya sih esai-esai ini adalah senjata utama kita di perang melawan ribuan pendaftar lainnya. 



Untuk persyaratan berkas yang diupload setelah submit yaitu hanya scan paspor, scan ijazah S1 dan transkrip nilai, dan scan IELTS serta LoA (kalau ada). Untuk reference atau surat rekomendasi dosen bisa diupload setelah kita dinyatakan lulus ke tahap wawancara (sekitar Februari tahun berikutnya), namun lebih baiknya disiapkan lebih awal karena kita juga tak tahu dosen kita besok sibuknya seperti apa kan?

My Chevening Application
Nah, selanjutnya saya ingin cerita tentang pendaftaran Chevening saya nih, boleh kan ya? Jadi awalnya kan saya tidak berminat mendaftar beasiswa (cuma pengen, belum ada kemauan, miris LOL) tapi berhubung ada temen seperjuangan sih ya, mengapa tidak? Pertama-tama, saya buat list persyaratan dulu, bisa dilihat gambar di bawah.


Jika ada list tersebut, semua jadi terlihat jelas. Yang kira-kira bisa dicicil ya dicicil dulu, seperti esai-esai dengan tema berbeda di atas misalnya. Jujur, bisa dibilang saya sangat jarang membuat esai dan tidak pandai merangkai kata-kata. Total waktu yang saya butuhkan untuk menyelesaikan empat esai itu ada sekitar 10 hari, belum dengan dikoreksi (proofread) oleh teman-teman sejurusan saya yang notabene lebih baik grammar dan reading comprehension-nya. Sebenarnya ingin juga meminta tolong dosen saya membaca ulang esai-esai tersebut tapi sepertinya waktunya tidak memungkinkan. Apalagi saya termasuk orang yang “nggak enakan”, minta bantuan temen aja sungkan apalagi sama dosen, haha. Pokoknya jangan langsung puas dengan esai bikinan kita, coba diamkan dulu dua hari lalu baca lagi dan revisi, lakukan berulang-ulang sampai benar-benar dirasa mantap.

Lalu untuk memilih jurusan S2/Postgraduate, seperti saran saya sebelumnya, lakukan dulu research ke web semua universitas di UK (kalau bisa). Web universitas di sana sudah sangat mumpuni dengan penjelasan yang detil dan gamblang. Syarat-syarat dan eligibility sudah dijelaskan juga, tapi kalau mau tanya lebih jauh sih biasanya bisa melalui email universitas dan akan dibalas sekitar 2-3 hari kemudian. Saya sendiri memilih 3 jurusan yang linier dengan jurusan saya di S1 dulu karena memang saya nggak mau lagi pindah haluan, haha. Awalnya sempat bingung dengan banyaknya pilihan jurusan dan universitas, setelah melalui penelitian kecil yang rumit (halah), akhirnya terpilihlah tiga jurusan di universitas di bawah ini.


Setelah urusan esai dan pilihan universitas selesai, saya lalu memutuskan untuk membuat paspor karena memang belum punya, huhuhu. Nggak ribet sih sebenernya bikin paspor, tapi lumayan lama. Lebih lengkap tentang membuat paspor, bisa baca di postingan saya di sini

Saya juga baru pertama kali meminta dosen untuk membuat surat rekomendasi atau reference. Kalau ingin mendaftar S2 atau master di luar negeri, biasanya sih reference ini menjadi sangat penting karena dialah yang menjelaskan kemampuan dan kapasitas kita di mata orang-orang yang pernah bekerja sama dengan kita (di bidang pendidikan). Saya juga sudah membuat postingan tentang cara efisien meminta surat rekomendasi dari dosen, bisa dibaca di sini.

Terhitung 20 September 2017 saya mulai yakin untuk mendaftar beasiswa Chevening dan sejak itu pula saya mulai mengumpulkan syarat-syarat kelengkapannya, benar-benar perjuangan, haha. Hingga akhirnya pada 28 Oktober 2017 saya submit pendaftaran online saya setelah sebelumnya ada email dari Chevening yang memberitahukan agar pendaftar segera submit sebelum bulan November untuk menghindari website traffic atau technical difficulties di waktu-waktu terakhir pendaftaran.

Ah iya, tanggal 1 November 2017 kemarin ada European Higher Education Fair (EHEF) di Jogja Expo Center, Yogyakarta. Pameran ini diisi oleh stand-stand delegasi beberapa universitas di Eropa yang bertugas mempromosikan kampusnya, tidak terkecuali UK. Beruntung, tiga universitas pilihan saya di Chevening  menjadi peserta pameran ini. Tak bisa disia-siakan dong, saya dan Dana banyak sekali bertanya kepada “orang dalam” di universitas pilihan kami mengenai jurusan yang kami pilih dan persyaratan umumnya. Yang bikin kaget, kebanyakan dari mereka menyarankan agar kami segera mendaftar melalui online application system walaupun kami belum mendapatakan sertifikat tes IELTS. What should we do?

Berburu merchandise!


Prospectus gratis

Batas akhir pendaftaran adalah Selasa, 7 November 2017 dan pengumuman mengenai peserta yang akan lolos pada tahap wawancara adalah pertengahan Februari 2018. Semoga saya masuk salah satu yang dipanggil wawancara di British Embassy di Jakarta dan diterima beasiswa Chevening, mohon doanya ya teman-teman semua. Terima kasih sudah membaca, kalau ada yang ingin ditanyakan bisa melalui kolom komentar atau via email. Selamat berjuang!


Yogyakarta, 6 November 2017

Post a Comment

1 Comments