My College Life: Cerita PPL UNY 2015 SMP Negeri 4 Sleman - New Memories Are Emerging

Tell me wh(aaaaaaaaaaaa)y.....

Titik. Sepenggal lirik lagu “Lion Heart” yang belakangan dipopulerkan oleh Girls’ Generation ini menjadi kalimat pembuka cerita saya kali ini. Mengapa? I’ll tell you later. Di kesempatan kali ini (kesempatan curhat yang ke-sekian kalinya), saya ingin menceritakan pengalaman berharga yang saya alami selama kurang lebih dua bulan lalu, tepatnya 10 Agustus – 12 September 2015. Pengalaman? Piknik-kah? Liburan-kah? Travelling-kah? Bisa dibilang lebih berharga dari semua itu, sangat berharga. It’s like a treasure, that’s why I want to share it with you all here, keep in mind.

Sebut saja si pengalaman berharga itu PPL UNY 2015. Kepanjangannya? Praktik Pengalaman Lapangan Universitas Negeri Yogyakarta Tahun 2015. Hmm. Sebenarnya apa sih PPL itu? Coba cek di sini. Seperti yang telah saya ceritakan di postingan sebelumnya, PPL adalah semacam KEHARUSAN bagi mahasiswa jurusan kependidikan seperti saya sebagai jalan untuk memenuhi syarat kelulusan memahami tugas seorang guru di masa depan, mulai dari hal paling biasa seperti membuat RPP dan mengajar di kelas, hingga hal luar biasa di luar nalar seperti dealing with mischievous or disobedient students and students’ stupid love stories. Mungkin bukan hal yang spesial lagi bagi para guru di negeri tercinta ini, namun bagi saya yang notabene masih bergelar mahasiswa tanpa-pengalaman-mengajar-kecuali-saat-Micro-Teaching, semua itu rasanya mustahil. Saya bilang begitu karena ya memang begitulah adanya, menurut pemikiran "cetek" saya sih. Cukup segitu mungkin basa-basinya. You want to know the complete story, don’t you? Well here it goes.

The majestic SNEPAT


“Siswa siswi SMP 4 Sleeee-man, tuntutlah ilmu untuk negaraaa..”

Yang di atas ini merupakan sepenggal lirik di Mars SMP Negeri 4 Sleman. Sekolah yang mengusung tema “BERJAYA” alias “bekerja keras, jati dirinya akhlak mulia” ini adalah sebuah instansi pendidikan yang teramat menawan, dan merupakan setting utama dalam cerita yang saya perankan bersama dengan pohon cherry sebagai latarnya. Sebagai sekolah yang sudah beberapa tahun belakangan menerima mahasiswa PPL, SMP Negeri 4 Sleman yang lebih akrab disapa SNEPAT ini bisa dibilang “mumpuni” dalam membimbing para calon guru gemes untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Ibu kepala sekolah, jajaran guru dan staf memainkan peran sebagai orang tua asuh kami di sini. Kami dibimbing ini itu saat observasi sekolah, diberi banyak petuah berharga saat mengabdi, serta dicintai layaknya anak sendiri. Beneran broh.

Minggu Pertama PPL
Minggu pertama dimulai dengan mengikuti upacara bendera hari Senin. Di situlah kami untuk pertama kalinya officially introduced to the whole teachers and the students. Sambutan yang meriah bisa kami rasakan saat satu persatu nama kami disebut. Siswa-siswi bersorak menyambut kedatangan kami di sekolah mereka, walau itu untuk pertama kalinya kami bertatap muka secara langsung. Canggung. Err. Setelah kami mengadakan rapat dengan dewan guru selepas upacara untuk membahas pelaksanaan PPL dan tetek-bengek-nya, beberapa dari kami mulai mengajar di kelas-kelas hari itu, sedangkan saya masih terbingung-bingung karena belum dipasrahi jadwal mengajar. Karena pikiran masih benar-benar kosong dan tidak bisa berpikir banyak, saya putuskan untuk membantu teman-teman membersihkan hati jahat dan pikiran mesum mereka ruang OSIS yang selanjutnya kami sulap menjadi “Kantor Guru” kami. Sempit nggak masalah, yang penting jadi satu dan dekat di hati, eaaaaa.

Di hari selanjutnya, saya dan rekan sejurusan saya, Ganang-the-baper-boy, memutuskan untuk menemui Ibu Rusbaniah, S.Pd. (pengampu kelas VII dan VIII) dan Ibu Sri Hesti Hartuti Riyadi Utami, S.Pd. (pengampu kelas VIII dan IX) as known as Maam Rose dan Maam Hesti untuk mengonsultasikan RPP yang kami buat sebagai acuan untuk mengajar. FYI,  Maam Rose dan Maam Hesti ini adalah dua sosok guru Bahasa Inggris yang sangat berbeda tapi sama-sama luar biasa. Maam Rose memiliki kepribadian keibuan, lembut, dan sangat sabar menghadapi murid-murid yang bandel di kelas, sedangkan Maam Hesti adalah pribadi yang optimis, disiplin, dan tegas, terutama dalam berurusan dengan siswa-siswi bandel yang melanggar aturan sekolah. Di minggu pertama ini, tepatnya hari Kamis, 13 Agustus 2015, saya yang notabene tanpa-pengalaman-mengajar-kecuali-saat-Micro-Teaching ini, untuk pertama kalinya mengajar siswa SMP sungguhan, tepatnya siswa kelas VII B, didampingi Maam Rose. Rasanya? Nano-nano. Senang, bingung, takut, gugup, tapi nyaman. Percayalah, kenyataan di lapangan berbeda sangat jauh dengan apa yang kita lalui di Micro Teaching.

Bersama Ibu Hesti dan Ibu Rus, now we are four English teachers!

With VII B and Ibu Rusbaniah, S.Pd.



Di hari selanjutnya, kami mengikuti kegiatan rutin “Jumat Sehat” yang kali itu berupa jalan santai mengelilingi desa di sekitar sekolah. Kami juga mengadakan pelatihan PMR bagi siswa-siswi yang berminat, mengingat belum adanya anggota PMR aktif di sekolah ini. Peserta pelatihan yang berasal dari perwakilan semua kelas begitu antusias mengikuti kegiatan yang digawangi oleh PMI Sleman tersebut.








Minggu Kedua PPL
The second week dimulai dengan mengikuti upacara Kemerdekaan RI Ke-70 yang dilaksanakan di Lapangan Pandowoharjo, Sleman. Kami bertugas sebagai pengawas para siswa sekaligus motivator-biar-kuat-berdiri-menahan-teriknya-mentari-sambil-makan-permen-gratis. Hahaha. Ayo Kerja!



Hari selanjutnya diadakan lomba menghias kelas dalam rangka memperingati HUT RI Ke-70, setiap kelas berlomba-lomba makan kerupuk paling banyak menghias kelas masing-masing, kompak!


With the winner, IX B!

Minggu kedua tidak begitu spesial, aktivitas sehari-hari kami dimulai dengan berangkat sangat pagi, biasanya jam 06.00 lebih sedikit, pernah suatu kali jam 05.50 saya sudah siap sedia sampai di sekolah (rekor ter-mruput), membuka pintu gerbang barat, menjaga parkiran sepeda siswa dan menyalami mereka satu per satu. Satu hal yang unik adalah menjaga pintu depan tiap kelas saat kegiatan berdoa dimulai, berdoanya 10 menit broh, pake tiga bahasa pula!

Di minggu kedua ini saya mulai “resmi” diberi amanah untuk mengajar kelas VII B, VII D dan VIII D hingga selesai PPL, tidak seperti minggu sebelumnya yang masih belum pasti dan masih sering team-teaching. Kelas VII B dan VII D bisa dibilang kelas tujuh yang kelas tujuh banget broh, maksudnya, mereka masih belum pantas disebut remaja tapi juga memang sudah bukan anak-anak lagi, kebiasaan ribut dan bandel saat SD memang masih sangat melekat. Selain susah diatur dan susah kalem, mereka juga susah paham. Hmmmm. Beda halnya dengan kelas VIII D, mereka lebih bisa mengatur diri sendiri, walau kadang ada pelopor ribut juga. Berbeda dengan adik kelasnya, VIII D lebih mau belajar dan mereka sudah merasa membutuhkan Bahasa Inggris, terbukti dengan keseriusan belajar dan nilai-nilai ulangan harian mereka. Ketiga kelas ini unik. Kadang mereka diem banget, kadang bisa ribut banget, kadang mereka serius, kadang juga melontarkan pertanyaan nggak mutu dan nggak nyambung, misalnya percakapan saya dengan Ericho, siswa VII B di bawah ini,

E    : “Mister, bahasa Inggrisnya sapi itu apa toh?”
S    : “Cow. Kenapa?”
E    : “Bukan buffalo ya?”
S    : “Bukan, itu kerbau.”
E    : “Kalo bahasa Inggrisnya cinta apa?”
S    : “Love. Kamu liat tulisan mana toh? Itu yang di papan tulis ada begituan po?”
E    : “Nggak ada, hehehehe.”
S    : “Udah, sekarang nyatet dulu, nanyanya nanti lagi.”
E    : “Iya, mister.”
*lalu hening sebentar*
E    : “Eh, mister, mister..”
S    : “ERICHO SAPUTRA.”
E    : “Nggak jadi mister, hehehehe.”
*Well, you got the point there.*

So far, ketiga kelas ini luar biasa. Mungkin mereka tidak begitu banyak belajar dari saya, apalah saya ini yang cuma butiran debu, eh, maksudnya cuma mahasiswa tanpa pengalaman, tapi kenyataannya saya-lah yang belajar banyak hal dari mereka. Double thumbs up for all!

VII B

VII D


VIII D

Maafkan ke-alay-an kami

Setiap selesai mengajar biasanya saya kembali ke basecamp atau “Kantor Guru” ala kami yang dulunya ruang OSIS. Di sinilah sebagian besar waktu kami habiskan. Ruangan ini berukuran sekitar 4 X 6 meter, cukup luas untuk menampung 20 mahasiswa seperti kami. Di dalam ruangan ada banyak meja kursi yang biasa dipakai OSIS dan telah kami sulap menjadi ruang transit alakadarnya. Yang unik dari ruangan ini adalah adanya ruang terbuka di sebelah utara, terbuka alias tanpa atap, dengan tembok penuh lukisan berdiri kokoh sebagai penopangnya. Ruangan ini adem walau tanpa kipas angin, terang benderang walau tanpa lampu listrik, dan romantis walau tanpa ada kamu di sisiku. Eh.


Teachers' groufie

My partners in crime

Meja kerja saya dan Kikik


Foto keluarga!

Ibu-ibu guru makan siang duluu..

Duo atlet yang selalu tidur siang, hahaha

Sudut favorit di basecamp

Tembok dengan atap terbuka (in frame: Potz)

Di basecamp, banyak yang kami lakukan. Sekedar mainan laptop, sekedar menikmati jajan yang dibeli di kantin, berfoto dengan teman-teman yang lain, minum teh hangat pemberian sekolah, memutar lagu wajib yang setiap hari kami putar yaitu Girls’ Generation - Lion Heart dan menari-nari gembira tanpa beban hidup, atau bikin video dubsmash kayak gini biar kekinian. Hahaha. Maaf alay.






Minggu Ketiga PPL
The third week adalah minggu ter-melelahkan. Mengapa demikian? Jika pada minggu sebelumnya saya hanya mengajar 3 kelas seperti yang disebutkan di atas, di minggu ketiga ini saya mengajar 7 kelas sekaligus, yaitu VII B, VII D, VIII A, VIII D, IX A, IX B dan IX C. Mengapa oh mengapaaaaa? Ternyata di minggu ketiga ini Bu Rus dan Bu Hesti banyak disibukkan oleh aktivitas di kantor guru, entah briefing dengan jajaran guru, entah mengurus administrasi online, dan entah-entah yang lainnya. Jadilah saya dan Ganang yang dipasrahi mengajar kelas-kelas tersebut tanpa didampingi beliau-beliau ini.

Oh iya, tadi saya menyebutkan kelas IX alias kelas sembilan kan ya? Nah, ini menarik. Awalnya, saat diberi amanah untuk mengajar hanya kelas VII dan VIII saja, saya sangat bahagia. Mengapa? Saya kira mengajar kelas VII dan VIII itu mudah dan mengajar kelas IX akan sangat-amat-membunuh dalam artian bisa-bisa malah saya yang di-bully karena mereka adalah angkatan yang sudah banyak makan asam garam kehidupan paling tua di sekolah. Nyatanya, mengajar kelas sembilan itu MENYENANGKAN. Mereka jauh lebih bersahabat dibandingkan kelas VII, jauh lebih kalem dan kooperatif dibandingkan kelas VIII, jauh lebih menyenangkan dan bisa dibilang, kalau bahasa Jawa-nya “ndemenakake”. Especially IX B, you guys are cool!

Di minggu ketiga ini pula, saya diminta Maam Rose dan Maam Hesti untuk membuat soal ulangan harian sendiri dan mengujikannya pada para siswa. Materi yang sudah saya ajarkan sampai saat itu antara lain greetings, introducion oneself and introducing someone untuk kelas VII dan asking for, giving, refusing goods/help & descriptive text untuk kelas VIII. Hasilnya? Rahasia.



Oh iya, ada program penanaman warung hidup saat “Jumat Fleksibel” atau hari Jumat minggu ketiga, check this out!




Minggu Keempat PPL
Minggu keempat adalah minggu selo, yang berarti bahwa tidak banyak kegiatan yang saya lakukan dan bisa dibilang membosankan. Masih dengan kegiatan mengajar, memberikan remidial, melakukan piket KBM, menilai kebersihan kelas untuk lomba kebersihan, mengawasi ibadah Dhuhur, mengisi kelas kosong, dan lainnya. Yang unik? Jangan khawatir, pasti akan selalu ada hal unik yang bisa saya ceritakan.

Yang pertama, Senin 31 Agustus 2015, kami mahasiswa PPL UNY 2015 di SNEPAT bersama dengan jajaran guru dan staf were wearing the great traditional costume of Yogyakarta called “Lurik” or stripe-patterned Javanese costume. Untuk merayakan Hari Keistimewaan DIY, para guru, staf dan mahasiswa PPL dengan apiknya mengenakan kostum tradisional tersebut. Fotonya? Jelas adaaaa.

The four English teachers are back!

Bersama Ibu Han


Yang kedua, ada PEMILU di sekolah broh! PEMILU? Lebih tepatnya disebut PEMILOS atau Pemilihan Pengurus OSIS, dengan tiga kandidat sebagai calon Ketua OSIS. Ini nih,

Bima, Delta, dan Saddam

Kegiatan PEMILOS berlangsung lancar dan mirip pasar kaget, semua tumpah ruah riuh rendah di lapangan sekolah, mengantre demi selembar kertas suara kecil yang menunggu untuk dicoblos-coblos. Hahaha. Seru!



Minggu Kelima PPL
The fifth week or just call it the last week (Oh no.) adalah minggu yang super duper selo karena tidak banyak yang kami lakukan selain berkutat dengan pengeditan laporan dan laporan dan laporan dan laporan lagi tanpa henti. Lama-lama bosan juga kami dengan laporan, ingin masuk kelas lagi sih, tapi toh sudah tuntas tugas kami mengajar di kelas. Bisa apa?

Yang berbeda dari minggu sebelumnya adalah, saat upacara bendera, kami membagikan hadiah untuk kelas yang berhasil memperoleh predikat kelas terbersih dan juara lomba menghias kelas, yang disambut meriah oleh seluruh rakyat SNEPAT kelas yang mendapat predikat juara.


Lanjut, “Jumat Sehat” minggu kelima adalah senam irama, dengan lagu Ayo Bersatu yang sempat populer di jaman saya SD dulu. Banyak yang antusias, banyak pula yang malu-malu kucing.




Ada lagi, kami memasang slogan-slogan berupa poster dan banner untuk menghias sudut demi sudut sekolah, seperti ini nih,



Yang terakhir dan istimewa, penarikan PPL. Ya. Kami sudah ditarik kembali dari SNEPAT dan seutuhnya menjadi mahasiswa UNY lagi (Oh no. Part 2). Penarikan berlangsung serius dan santai, hingga pada akhirnya sebagian besar mahasiswi dan ibu guru mengharu biru setelah menonton dokumenter pendek absurd buatan saya tentang perjalanan kami selama satu bulan mengabdi di SMP Negeri 4 Sleman. 

Ibu Warih Jatirahayu selaku kepala SMP Negeri 4 Sleman bersama DPL kami, Pak Eko



Selesai sudah lima minggu kami mengabdi di sekolah ini. Lima minggu yang penuh perjuangan. Perjuangan mengambil hati para guru, mengambil hati para siswa, bahkan mengambil hati ibu kantin biar didahulukan saat kami jajan. Hahaha.

Karena PPL ini, saya jadi sadar bahwa sebenernya teori-teori yang saya dapatkan di kampus nggak begitu bermanfaat untuk pengajaran “sungguhan” di kelas seperti di atas. Teori tentang cara mengajar, metode pembelajaran dan lain-lain hanya jadi semacam kerangka yang masih perlu disesuaikan lagi dengan situasi dan kondisi di lapangan.

Saya juga sadar bahwa sebagai seorang “guru”, saya harus punya wibawa dan sikap yang bisa dicontoh, kadang memang sulit, mengingat kepribadian saya yang nggak bisa anteng, ceplas-ceplos dan sering bertingkah absurd. Tapi ya mau gimana lagi, buat sebulan aja sih nggak masalah, toh setelah selesai mengajar juga kepribadian aneh itu muncul lagi kok. Haha.

Saat berurusan dengan siswa yang ribut atau tidak mau mengerjakan tugas, cukup dengan kata-kata, “Kalau kalian nggak nurut, Mister Saras laporkan ke Bu Hesti lho.” atau “Kalau nggak mau ngerjain, siap-siap nilai jelek lho ya.” Percaya deh. Kekuatan kedua kalimat itu super dahsyat. Got them!

Sedikit nasehat, jangan jadi “guru” yang terlalu strict dengan peraturan dan jangan terlalu serius, pasalnya selain akan menjauhkan kita dengan siswa, pembelajaran juga jadi ngebosenin dan siswa jadi nggak antusias belajar. Beda kalau kita jadi “guru” yang supel, sering bercanda, dan yang terpenting, hafal nama mereka satu persatu, percaya deh, yang satu ini bisa bikin mereka sayang sama kita dan bisa sampai dianggap kakak sendiri. Seriusan. Jangan gara-gara kita bergelar “guru”, lalu kita jadi semena-mena dalam mengajar. That is so yesterday. Toh lama-lama mereka juga bakalan ngerti cara mengajar dan keahlian kita masing-masing, “Wah, kakak yang ini jago banget ngomong pake Bahasa Inggris, kakak yang itu ternyata pinter nari, kakak yang tinggi-tinggi ini udah mirip atlet nasional, kakak yang itu suka banget ngapalin Pembukaan UUD 45, dan lain-lainnya..

Perjuangan BERJAYA di atas tentu saja tak lepas dari bantuan banyak pihak yang ada di balik layar. Oleh karena itu, di kesempatan kali ini saya ingin mengucapkan terima kasih banyak kepada Ibu Kepala Sekolah atas segala nasehatnya, guru-guru SMP Negeri 4 Sleman khususnya Ibu Rus dan Ibu Hesti yang telah banyak membimbing saya, rekan-rekan PPL UNY SNEPAT 2015 yang sudah saya anggap saudara sendiri, Ganang, Santi, Kiki, Fitri, Ayuna, Tri, Intan, Putra, Mbak Ratna, Arina, Isti, Niah, Riyanti, Yuli, Tia, Aziz, Habib, Ardy dan Khomeini, serta yang paling saya rindukan, semua siswa SMP Negeri 4 Sleman, khususnya kelas VII B, VII D dan VIII D, jangan lupa pesan Mister Saras yang tertempel di stiker biru itu, keep studying English!


Sekian dulu cerita PPL kali ini, tentang rekan-rekan PPL saya yang ajaib dan menyenangkan akan dibahas di postingan selanjutnya. Terima kasih banyak sudah repot-repot scroll down membaca sampai di akhir sini. Semoga sehat selalu!






Post a Comment

0 Comments