Sequel of Life: Menjadi Seorang Kakak

Kembali mencoba mengumpulkan ingatan di masa lalu saya, sekitar 20 atau 21 tahun silam. Kala itu keluarga kami masih tinggal di salah satu rumah nenek yang menjadi warisan untuk bapak. Rumah model Jawa kuno dengan empat tiang saka yang terbuat dari kayu jati kokoh dan selalu tahan akan gempa bumi, seingat saya. Tidak begitu besar ukurannya, namun teduh dan nyaman. Rumah kami dulu berhadapan dengan sebuah kebun penuh pepohonan rindang dan jauh dari jalan besar, yah walaupun sekarang sudah semakin banyak jalan permanen menuju ke rumah itu.

"Because brothers don't let each other wander in the dark alone." - Jolene Perry


Selayaknya anak kecil pada umumnya, hampir tiap hari saya habiskan untuk menonton TV, membaca buku cerita bergambar, dan bermain di luar rumah. Teman-teman saya semasa kecil kebanyakan berusia lebih tua dari saya, hampir semuanya. Frasa “Dek Saras” seperti sudah menjadi nama panggilan wajib bagi saya saat itu. Sementara saya baru berusia tiga tahun, mereka sudah memasuki usia TK, bahkan SD. Saat teman-teman saya pergi ke sekolah, saya kerap menghabiskan waktu sendirian di rumah membaca buku cerita (karena Ayah dan Ibu bekerja) atau pergi bermain ke rumah budhe yang jaraknya tak jauh dari rumah saya. 

Ingin Menjadi Kakak
Hingga tibalah pada suatu waktu, saya meminta kepada Ibu untuk memberikan saya adik. Hal tersebut saya utarakan agar saya punya teman bermain di saat teman-teman sepermainan pergi ke sekolah. Toh, Ayah dan Ibu saya selalu bekerja setiap pagi. Dan akhirnya pada awal tahun 1996 keingian itu terwujud. Ibu mengandung anak kedua. Adik saya.

Saat Ibu mengandung adalah saat-saat membahagiakan bagi saya. Rasa penasaran khas anak usia 3 tahun selalu membayangi saya. Banyak pertanyaan-pertanyaan aneh yang saya lontarkan kala itu, seingat ibu. Misalnya saja, “Mah, biar bisa hamil itu harus makan daging yang banyak ya?” atau “Kalau adik sudah lahir langsung bisa jalan belum, Mah?”, dan Mah-Mah yang lainnya lagi. I was being super excited, I guess. Saat itu, mungkin juga sedikit ada rasa cemburu karena Ayah, Ibu, Paman, Bibi, Kakek dan Nenek mempersiapkan kelahiran adik dengan berbagai upacara selamatan. Rasa cemburu itu saya ekspresikan dengan sering bertingkah dan rewel. Hal yang lumrah, mungkin (?)

Keinginan untuk menjadi kakak itu akhirnya terpenuhi juga. Hari Rabu, 27 November tahun 1996, kalau tidak salah setelah Subuh, bayi mungil itu lahir, dengan tangis yang memekakkan telinga. Ayah sempat mengira bahwa adik saya berjenis kelamin perempuan karena tangisannya. Ternyata adik saya laki-laki. Adik lahir di ruang bersalin, bertempat di Rumah Bersalin Amanda di Ambarketawang, Gamping. Ibu bersalin ditolong oleh Bidan Suharni yang notabene adalah teman karib beliau dan juga yang membantu persalinannya saat kelahiran saya dahulu. Dulu sih belum begitu populer USG, jenis kelamin bayi hanya diketahui ketika kelahiran. Kelahiran adik menandakan secara resmi saya ditahbiskan sebagai seorang kakak. Ayah dan Ibu akhirnya punya dua jagoan di rumah.

Teman Bermain Baru
Adik menjadi teman bermain baru bagi saya. Kata Ibu, kami berdua adalah adik-kakak yang sulit sekali dipisahkan, kalau saya tinggal bermain keluar, adik selalu menangis merengek ingin ikut. Selayaknya anak-anak, dulu kami juga sering bertengkar, jotos-jotosan, berebut mainan, dan kejar-kejaran. Tak jarang, jika Adik menangis saya pasti dimarahi Ibu. Haha.

Aaaaaaaaaak...


Saya juga masih ingat jika orang tua kami selalu membelikan kami berdua baju dengan model yang sama, hanya berbeda warna dan ukuran. Yah, walau sekarang kami memiliki selera fashion masing-masing sih. Mungkin kami memang dua bersaudara yang terlalu terikat. Selain Sekolah Menengah Pertama (SMP), kami berdua menimba ilmu di almamater yang sama. Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) hingga bangku Universitas kami sama.

Lahir dari rahim yang sama tak serta merta membuat kami sama dalam berbagai hal. Tuhan menganugerahkan kami kemampuan, sifat, kesukaan, dan keunikan masing-masing. Saya mungkin ahli dalam hal tertentu, sedangkan Adik tidak, pun sebaliknya. Adik mungkin suka makanan tertentu, sedangkan saya membenci makanan tersebut, begitu juga sebaliknya. Bukankah akan membosankan kalau dua bersaudara begitu mirip?

Menginjak usia dewasa, saya mulai mencoba memahami adik. Mencoba mencari tahu kapan ia membutuhkan nasihat, kapan ia harus memecahkan masalahnya sendiri, dan selalu berusaha membantu bila dirasa membutuhkan. Orang tua kami selalu berpesan agar kami rukun dan saling membantu satu sama lain karena keluarga kami bukan termasuk keluarga besar. Mungkin kelak kami hanya akan punya satu sama lain.

22 Tahun Menjadi Seorang Kakak

Sekarang saya berusia 25 tahun dan adik telah memasuki usianya yang ke-22 tahun. Bayi mungil yang dulu sering saya gendong itu kini mulai beranjak dewasa. Kekuatan waktu memang mengerikan. Aneh rasanya melihat adik tumbuh dewasa. Tinggi dan berat badan kami sekarang hampir sama. Sudah tidak terlihat adik-kakak lagi. Biar bagaimanapun, semua makhluk Tuhan pasti akan tumbuh dan berkembang. Tak berbeda dengan kami yang tumbuh menjadi dewasa bersama.

Kami sekarang memiliki hobi yang sama, pergi main atau traveling berdua saat waktu luang lalu saling menceritakan pengalaman atau keluh kesah masing-masing, bukan hanya menasihati ini itu tanpa ada solusi. Bukankah banyak masalah berat yang terasa ringan bila diceritakan? Yah, walaupun untuk satu hal masih belum berhasil saya lakukan. Saya merasa pusing ketika Ibu meminta saya terus memotivasi Adik agar segera menyelesaikan tugas akhir skripsinya. Adik sepertinya belum bisa fokus karena ia juga bekerja paruh waktu untuk menambah uang saku. Saya pun tak bisa seenaknya saja memaksakan kemauannya.


Cemburu
Sebenarnya saya sangat cemburu pada adik. Saya pun ingin memiliki seorang kakak dalam kehidupan saya. Seringkali saat teman-teman bercerita tentang kakak mereka, saya hanya bisa berdengus kesal. Kadang saya juga ingin mempunyai sosok kakak yang biar bagaimanapun pasti perhatian kepada adiknya, karena perhatian seorang kakak pasti berbeda dari perhatian kedua orangtua.

Walaupun begitu, saya sering pula bertanya pada diri sendiri, “Mengapa saya bermimpi memiliki seorang kakak? Mengapa harus mencari bila saya bisa menjadi?” Tuhan telah menentukan jalan saya. Saya bisa menjadi sosok kakak yang saya idamkan sendiri. Menjadi kakak yang bisa diandalkan dan membanggakan adiknya. Saya akan berusaha sekuat tenaga untuk menjadi kakak yang baik, sebagaimana mestinya.

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa saya bukanlah kakak yang sempurna, bahkan jauh dari itu. Saya juga bukan teladan yang bisa diikuti maupun seseorang yang dapat dijadikan sosok panutan. Sebagai seorang kakak, saya hanya bisa berusaha mendukung adiknya, sejauh yang saya bisa.


Rumah, 24 Januari 2019 

Post a Comment

3 Comments

  1. Super kakak dan kakak adalah tempat berbagi rasa di saat adik nggak yakin dgn siapapun...krn aku seorang adik ��

    ReplyDelete