Voyage Chapter Eight: Pesona Negeri di Atas Awan, Second Day in Dieng!


Hari keduaku di Dieng dimulai dengan suara bising dering alarm dari handphone milik Ipnu. Karena kesal, tak kugubris suara Ipnu membangunkan kami. Waktu menunjukkan pukul 03:05 WIB. Dingin masih menyelimuti seisi tenda, bahkan kakiku yang dari seharian kemarin memakai kaus kaki pun terasa membeku. Mau tak mau, aku pun beranjak bangun dari sleeping bagku, mengulat, menguap, menguping suara alam di luar tenda, sejenak mengintip dari pintu tenda, hembusan udara dingin menusuk hidungku, kututup lagi dan kembali meringkuk. DIEEEEENG, WHY U NO WAAAAAARM???

“Make voyages. Attempt them. There’s nothing else.” ― Tennessee Williams 

Akhirnya kami semua bangun dengan mata sayu, masih mengantuk, berjalan keluar tenda untuk menyapa alam, menghirup udara subuh, bercengkerama, mengeluh masih mengantuk dan obrolan lainnya. Setelah mempersiapkan apa saja yang akan kami bawa mendaki bukit Sikunir, kami mengunci pintu tenda kami dan segera berangkat, tentu saja masih dengan tubuh menggigil.
    
Awalnya kupikir bukit Sikunir terlalu tinggi untuk didaki, ternyata salah. Hanya sekitar setengah jam waktu yang kami butuhkan untuk mencapai puncak, itupun sudah ditambah banyak pemberhentian untuk istirahat dan menghela nafas yang tersengal. Bukit Sikunir sendiri adalah sebuah bukit di samping telaga Cebong dan masuk kawasan desa Sembungan. Banyak bebatuan besar serta pohon-pohon berbatang tebal dan berukuran raksasa, banyak pula semak-semak dan rerumputan yang menutupi tanjakan-tanjakan curam.
    
Kami mencapai puncak Sikunir pada pukul 05:10 WIB. Di puncak tertinggi itu sudah banyak pendaki lain yang berkumpul. Ada kerangka pendopo unik pula di sana, pesonanya tak tertandingi. Setelah mendapat tempat, kami segera duduk merapat, menempel satu sama lain, meringkuk kedinginan, udara di puncak jauuuuuh lebih dingin dan menusuk. Satu per satu dari kami melaksanakan sholat subuh di puncak Sikunir, beralaskan sarung. Mungkin itu sholat “terdekat” dengan Allah yang pernah kami lakukan, di tempat setinggi 2.263mdpl, beratapkan langit. Subhanallah.

masih terlalu gelap, dan dingin!

semua masih bermuka kasur


Kami menunggu dan terus menunggu kedatangan sang golden sunrise. Pukul 05:53 WIB, sang mentari mulai menampakkan sinarnya. Subhanallah. Benar-benar kesempatan emas bisa menyaksikan ‘emas murni’ milik Allah pagi itu.

sudah mulai terang

kelihatan kan?

ini dia sang Golden Sunrise

Masyaa Allah

walau mentari terbit, masih saja dingin


with Septyyana

bisa senyum bahagia karena ada yang bersedia memfoto kami bertujuh, hahaha

itu gunung apaan ya?

with Hendra & Ipnu

Hendra, Ipnu, Septyyana, Vania, Saras dan Tonny

sangat teraaaaang

pose kedinginan


selfie bersama Denis di 2.263mdpl!

selfie full house!



siluet kerangka pendopo dan pendaki lainnya

Setelah banyak mengambil gambar, kami bersiap turun. Rencana kami selanjutnya adalah mengemasi tenda dan barang bawaan kami untuk selanjutnya mengunjungi area wisata di dataran tertinggi di pulau Jawa itu. Kami sampai kembali di pinggir telaga pukul 07:22 WIB dan segera berkemas.

gunung di balik pepohonan

para pasukan bersiap turun 

sepulang dari bukit Sikunir

telaga Cebong tepat di depan tenda kami

berlatar belakang telaga Cebong di kaki pegunungan dusun Sembungan

serbuan ke tenda kami untuk sarapan

ini tenda-tenda kami

tenda-tenda tetangga selalu lebih indah, hahaha

Kami melanjutkan perjalanan kami, meninggalkan desa Sembungan yang sudah riuh rendah oleh warga yang berdesakan ingin menyaksikan ritual potong rambut gimbal di lapangan di samping telaga. Kami tak berniat menyaksikan ritual yang hanya dilaksanakan setahun sekali itu, karena waktu kami di sini juga terbatas, takut pulang kemalaman dan harus membayar denda di penyewaan tenda, haha. Perjalanan kami berlanjut menuju Dieng Plateau Theater yang ternyata mirip dengan gedung pemutaran kejadian alam di Ketep Pass, di Magelang sana. 

hasil jepretan Vania di Dieng Plateau Theater
     
Lalu kami kembali menaiki sepeda motor kami menuju kawasan kompleks candi Arjuna, membayar tiket seharga Rp 70.000 untuk 7 orang (sudah termasuk free pass ke Kawah Sikidang) dan menghabiskan sisa pagi kami bermain di sana. Banyak foto yang kami ambil karena pemandangan di sekitar candi memang sangatlah memanjakan mata, serasa di luar negeri. Candi-candi peninggalan nenek moyang Dieng tersebut dikelilingi pepohonan rindang di kaki pegunungan. Luar biasa, berbeda dengan candi-candi yang ada di Sleman sana.

kompleks candi Arjuna, beberapa masih dipugar

salah satu candi terindah di kompleks candi Arjuna



ini pose apaan ya?

merumput


Setelah puas mengelilingi kompleks candi, kami melanjutkan ke Kawah Sikidang, di perjalanan menuju kawah tersebut, menyeruaklah bau tak sedap di sekitar kami, hmm, ini toh yang namanya bau belerang? Baunya mirip telur busuk. Kami hanya sebentar mampir ke kawah tersebut karena Vania sudah tak tahan dengan baunya. Kami melanjutkan perjalanan untuk pulang.

selfie with Tonny at Sikidang crater

di kawah Sikidang wajib pakai masker, baunya sedaaaap!

Perjalanan pulang terasa lebih singkat daripada saat berangkat, pemandangan indah nan hijau Dieng masih saja memanjakan mata, indahnya benar-benar luar biasa. Hingga tak terasa bensin di motor kami mulai menipis, kami berhenti di pom bensin terdekat, sekaligus istirahat dan melaksanakan sholat Dzuhur dan Ashar. Kami juga berhenti sejenak di warung makan Kupat Tahu untuk mengisi perut, yah walaupun aku tak ikut makan karena tak suka makanan itu, hiks. Sekitar pukul 5 sore, kami sampai lagi di rumah Septyyana untuk menurunkannya dan sholat Maghrib, kami juga sempat makan bakso yang dibelikan Septyyana, akhirnya aku makan juga, haha. Perjalanan pulang berlanjut. Menyusuri jalan Magelang, kusadari bahwa akhirnya jalanan ”normal” bisa kujumpai, lega.
    
Kami sampai kembali di Jogja sekitar pukul 7 malam dan segera menuju Anak Rimba Adv. untuk mengembalikan tenda yang kami sewa. Perjalanan kami dua hari itu memang melelahkan, tapi lelah kami sebanding dengan apa yang kami dapat, pemandangan indah, suasana baru, udara segar, isi ulang oksigen, tawa yang hangat, persahabatan yang erat, dan kenangan yang berharga. Alhamdulillah. Terima kasih banyak Den, Nu, Van, Sep, Ton, Ndra, kalian memberiku satu lagi pengalaman berharga. Semoga kami selalu sehat agar senantiasa mampu menikmati indahnya alam negeri ini. Sekian. Terima Kasih. Bon Voyage!

Bon Voyage!


Yogyakarta, 13 Agustus 2014

Post a Comment

2 Comments