Voyage Chapter 25: Menajamkan Seni Melarikan Diri di Kota Lumpia, Semarang

Seni melarikan diri dari rutinitas rupanya menjadi salah satu seni yang sedang giatnya saya geluti saat ini. Tak berbeda dengan sebelumnya, cerita kali ini juga tentang bagaimana saya mencoba melawan ketakutan akan bepergian jauh sendirian. Lagi, saya mencoba membakar ketakutan akan kesendirian dalam diri saya dengan berbekal keberanian dan sedikit uang jajan.

"Most people want to escape. Stories are the easiest way to do that.”Victoria Schwab


Sore itu, Kamis, 13 Februari 2020. Setelah memastikan tidak perlu mencetak tiket keberangkatan pada resepsionis, saya duduk manis menunggu shuttle bus saya datang. Jumat, 14 Februari 2020 adalah hari di mana saya dijadwalkan tes SKD CPNS di Hotel UTC, Semarang. Dan sore sehari sebelumnya, saya berangkat dari kantor DayTrans Gading, Yogyakarta, tepatnya pukul 17.00 WIB. Perbekalan saya tidak banyak, karena memang hanya sehari saja saya di sana. Yeah, I did a backpack travelling again.


Free mineral water from DayTrans!

Sebenarnya tujuan saya yang utama bukanlah tes SKD tersebut, toh kemungkinan diterimanya sangat kecil, hanya 0,32 persen. Saya memberanikan diri bepergian ke kota yang jaraknya sekitar 150 km itu untuk sekadar mengisi ulang energi dan pikiran yang telah saya habiskan di awal tahun ini. Sendirian.

Mengapa sendirian? Apa saya tidak punya teman? Apa saya seorang yang anti-sosial? Bukan. Saya pun heran dengan diri saya sendiri saat ini. Karena beberapa hal, saya akhirnya harus bepergian sendiri. Yang mengejutkan adalah saya menyukai kesendirian tersebut. Semacam ada perasaan bangga terhadap diri sendiri.

Saya juga paham betul bahwa di negeri ini, orang-orang yang berpergian sendirian sering dianggap aneh. Padahal kalau kita bisa menerima kenyataan bahwa tak semua orang punya kepentingan yang sama dengan kita dan betapa mereka sudah cukup sibuk dengan urusan masing-masing, saya rasa berpergian sendirian bukanlah hal yang menakutkan lagi. Ya, kan?

Kembali ke cerita, saya sampai di Kota Semarang sekitar pukul 21.00 WIB. Terlambat satu setengah jam dari perkiraan waktu tiba yang dijadwalkan. Saya maklum sih, jalanan sore itu lumayan padat dan ramai. Beruntung, penginapan yang akan saya tempati, Griya Kasturi Syariah di Jl. Kencanawungu Tengah, Karangayu, Semarang tidak begitu jauh lokasinya dari kantor DayTrans Karangayu tempat saya turun. Pukul 22.00 WIB, saya sudah terlelap di atas kasur saking lelahnya.




Esok harinya, setelah menyapa pemandangan kota Semarang dan gunung yang entah apa namanya, saya mandi dan bersiap untuk menuju Hotel UTC, lokasi tes SKD yang jaraknya hanya sekitar 7-8 km dari penginapan. Saya sekalian check-out karena rencananya saya akan mengunjungi Klenteng Sam Poo Kong begitu tes SKD sudah selesai dilaksanakan dan kemudian pulang.


Tes SKD berjalan tanpa kendala yang berarti. Selesai tes, saya segera bersiap menuju Sam Poo Kong yang lokasinya tak jauh dari Hotel UTC. Siang itu cuaca sangat terik. Driver GoJek yang saya tumpangi juga mengiyakan. Bahkan semalam, pemilik penginapan bercerita bahwa Semarang sejak sebulan terakhir sudah tidak turun hujan. Panas, terik.

Sampai di Klenteng Sam Poo Kong, cuaca juga tidak berubah, masih terlalu terik bagi saya untuk berkeliling dan memainkan tombol shutter di kamera saya. Setelah membayar Rp28.000 untuk tiket terusan, saya menunggu di dekat food court sampai langit sedikit teduh, sembari mencicipi lumpia rebung yang dijual di sana. Lumpia khas Semarang biasanya diisi rebung, dengan cita rasa dominan manis gurih dan disajikan panas-panas, sepanas cuaca siang itu. Saya juga baru tahu kalau pelengkap lumpia semacam daun bawang kecil itu bernama lokio, setelah mas-mas penjual memberitahukan pada saya. Rasanya tidak sekuat daun bawang sih, dan entah mengapa cocok sekali disantap sebagai lalapan lumpia.













Di Klenteng Sam Poo Kong, saya menghabiskan sekitar 3 jam untuk beristirahat, berteduh, berkeliling, berfoto, dan menikmati hiruk pikuk pengunjung klenteng yang hari itu lumayan ramai. Banyak turis mancanegara, anak-anak sekolah mulai dari TK hingga SMA bisa saya temui hari itu. Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB. Dan setelah membeli satu kotak lumpia Sari Rasa, saya segera menuju ke kantor DayTrans Karangayu untuk pulang ke Jogja.



Menurut hemat saya, salah satu hal seru dari bepergian sendirian adalah cerita dari orang-orang yang baru saya temui. Biasanya, di kota-kota yang pernah saya kunjungi sendirian seperti Denpasar atau Surabaya tahun lalu, orang setempat akan merasa sedikit kaget ketika saya bilang saya jalan-jalan sendirian. Tetapi seringnya, setelah itu mereka akan menemani ngobrol, bercerita, dan memberikan banyak saran ke mana saya harus pergi, apa yang harus saya lakukan, makanan apa yang harus saya coba, dan hal menyenangkan lainnya.

Tidak perlu terlalu takut untuk bepergian sendirian. Asalkan persiapan sudah matang dan yakin pada diri sendiri pasti akan terlaksana, niat baik biasanya akan berakhir baik bukan? Intinya hati-hati saja, tidak semengerikan itu kok.


Yogyakarta, 22 Februari 2020

Post a Comment

0 Comments