Culinary Episodes: Mencoba Makanan Baru di Kafe yang Tersembunyi, Le Mindoni

Punya kepala pusing, nggak punya kepala kok serem. Kurang lebih beginilah gambaran kondisi yang sedang saya alami di awal tahun 2021 ini. Tahun ini sepertinya akan menjadi tahun kerja keras untuk mengejar ketertinggalan yang sempat menghadang sepanjang tahun 2020 lalu. Tak terkecuali bagi saya, yang sejak awal tahun sudah disibukkan dengan berbagai hal baru yang harus dikerjakan. Yah, lelah sih sebenarnya, namun bukankah lelah adalah tanda bahwa kita berjuang?

“The tired sunsets and the tired people - it takes a lifetime to die and no time at all.” ― Charles Bukowski

Sedikit bercerita, dulu di awal-awal kuliah semester 3 atau 4, saya pernah sangat kelelahan hingga malam-malam harus ke rumah sakit karena asam lambung yang naik pesat dan membuat dada saya nyeri hebat, tenggorokan terasa perih, dan rasanya nyawa sudah siap meloncat dari ubun-ubun. Nyatanya, saya kuat. Saya mampu melewati itu semua hanya karena dokter berkata, “Lelah nggak apa-apa mas, yang penting harus bahagia, ya.” Setuju, sih. Overall, happiness is all that matters. Period.

Dan mungkin salah satu kebahagiaan saya adalah ketika bersama teman-teman yang sudah saya kenal selama 15 tahun ini. Yah, walaupun setiap hari kami bercengkerama tiada habisnya melalui gawai, rasanya memang lebih afdal jika bertemu dan bercerita secara langsung.

Oh iya, kali ini kami sepakat untuk mengunjungi sebuah kafe dengan gaya Eropa yang tersembunyi di tengah kota Jogja. Sudah tahu di mana? Begini penampakannya.


Namanya Le Mindoni, letaknya di belakang pasar Kranggan, tepatnya di Jl. Kranggan, Cokrodiningratan, Kec. Jetis, Kota Yogyakarta. Kafe ini buka mulai pukul 08.00 hingga tengah malam. Dengan arsitektur senada dengan kebanyakan kafe kopi di Eropa sana, Le Mindoni dengan magis mampu menarik perhatian mereka yang melintas. Warna bangunannya didominasi putih gading dan biru, terlihat syahdu di bawah sinar matahari terik. Dan walaupun terlihat kecil, ternyata setelah masuk lumayan luas dan mungkin bisa menampung lebih dari 40 orang. Desain interior di dalamnya pun tak kalah menarik, benar kan?








Sebenarnya, pagi itu saya mengajak dua teman saya, Azis dan Dana ke sini karena ingin mencoba makanan yang belum pernah saya makan sebelumnya agar membuat saya bahagia. Hahaha. Bisa tebak makanan apa itu? Ini emojinya. 🥨

Ya, pretzel. Roti berbentuk pilinan menyilang layaknya sebuah pita ini merupakan salah satu roti yang sudah tersohor sejak ratusan tahun silam. Jenis roti ini berasal dari Jerman, dengan tekstur agak keras dan rasanya manis gurih. Karena penasaran, saya segera memesan satu pretzel yang memang sudah dipamerkan bersandingan dengan cinnamon rolls di etalase kafe, di bagian bakery. Begini penampakannya.



Pengunjung kafe bisa memesan original pretzel maupun glazed pretzel (dilumuri lapisan gula beraneka rasa). Dan karena kami bertiga memang doyan banget makanan manis, glazed pretzel menjadi pilihan kami siang itu.

Chocolate, strawberry, and green tea glazed pretzels!

Kami menghabiskan satu jam pertama di kafe ini dengan berfoto dan bercengkerama. Hingga tak terasa, perut kami meronta lapar, akhirnya kami juga sekalian memesan makanan di bagian food and beverages di kafe ini. Menu makanannya sebenarnya ada banyak, ada nasi goreng, rice bowl, pasta, dan lain sebagainya. Tapi yah, karena kafe ini bergaya Eropa, masa iya kami pesan nasi goreng dengan cabai rawit? Akhirnya, tiga piring pasta dan sepiring french fries meluncur ke meja kami beberapa menit setelahnya. Selamat makan!


Senang rasanya bisa sejenak keluar dari kesibukan dan berjumpa dengan orang-orang terkasih. Terlebih, di masa-masa berat seperti sekarang ini. Saya bersyukur sekali memiliki teman-teman yang suportif dan mau mendengar segala keluh kesah dan memberi saran bila saya ada masalah, mungkin karena memang itu yang saya butuhkan untuk menjadi pribadi yang selalu bahagia.

Saya selalu berpikir bahwa dalam hubungan pertemanan yang baik, setiap pribadi sejatinya akan semakin bertumbuh dan berkembang. Tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik, bagi dirinya sendiri maupun bagi sesama serta semesta di luar sana. Dan yang utama, sekali lagi, menjadi bahagia. Jangan lupa makan!


Yogyakarta, 13 Maret 2021

Post a Comment

0 Comments