Voyage Chapter 32: Menjelajah Sejarah dan Kuliner Kota Udang, Cirebon

Hari Minggu pertama (27/3) menginjakkan kaki di Kota Cirebon dan saya sudah heran dibuatnya. Subuh hari itu, saya dan dua teman, Azis dan Mbak Ganggas beranjak turun dari kereta Bengawan tujuan Stasiun Cirebon Prujakan setelah melalui 5 jam perjalanan malam yang cukup menguras kantuk. Apa yang membuat saya heran? Tak lain adalah sepinya suasana kota bahkan hanya beberapa saat sebelum matahari terbit. Saya sudah terbiasa melihat ramainya jalanan Jogja di subuh hari oleh para pedagang pasar, terlebih di hari Minggu.

"On a hard jungle journey, nothing is so important as having a team you can trust." – Tahir Shah

Pukul 05.00 WIB hari itu kami bertiga sudah duduk manis di teras Masjid Jami' Panjunan setelah kurang lebih 20 menit berjalan dari Stasiun Cirebon Prujakan tempat kami berhenti. Lantai di masjid yang didominasi warna merah bata yang dindingnya dipenuhi piring keramik hias khas Tionghoa pagi itu cukup dingin, tak beda dengan udara subuh saat itu. Kami beristirahat sambil meringkuk kedinginan setelah menuntaskan dua rakaat di sana.



Bukan tanpa tujuan sebenarnya perjalanan kami hari itu. Mbak Ganggas yang sejak awal tahun lalu tiba-tiba mengajak saya ke Cirebon untuk berwisata kuliner adalah alasannya. Sebenarnya kami sudah memesan tiket kereta untuk keberangkatan tanggal 26 Februari 2022, namun karena ternyata hasil swab antigen Mbak Ganggas di hari H keberangkatan menunjukkan tanda positif Covid, akhirnya kami tunda, tepat satu bulan lamanya.

Saksi bisu
Saksi bisu

Mencoba Makanan Baru

Pagi itu, kami berencana menghabiskan setengah hari untuk sekadar berkeliling kota dan mengunjungi beberapa tempat bersejarah sembari menikmati kuliner asli setempat. Setelah mengambil armada sepeda motor yang kami sewa untuk 24 jam berikutnya, kami segera bertolak menuju kawasan Kecamatan Kejaksan untuk mengisi perut kami yang sedari semalam sudah berteriak lantang.

Sekitar pukul 07.00 WIB kami sampai di lesehan Ibu Kapsah di Jl. Siliwangi yang menjual docang, sejenis hidangan sarapan favorit warga Kota Cirebon. Docang adalah makanan tradisional Cirebon yang tersusun dari campuran irisan lontong, parutan kelapa, daun singkong, tauge, dan kerupuk. Bahan-bahan tadi kemudian disiram dengan kuah dage atau oncom. 

Mungkin bagi lidah kami yang terbiasa dengan makanan manis di Jogja terasa sedikit asing, tapi ternyata saya cukup menikmati sarapan pagi itu. Rasa nikmatnya terasa begitu otentik. Daun singkongnya segar, taugenya pun cukup memberi sensasi renyah krenyes-krenyes di mulut. Ada sedikit rasa legit yang berasal dari oncom di kuahnya, ditambah parutan kelapa yang membuatnya semakin gurih. Harganya pun cukup ramah di kantong, seporsi hanya Rp10.000 sudah termasuk teh tawar hangat dan kerupuk. Harusnya kami datang ke sini lebih pagi agar tidak perlu mengantre tempat duduk. Haha.

The holy docang!


Siap-siap antre ya~


Lokasi: Docang Ibu Kapsah, Jl. Siliwangi No.77, Kec. Kejaksan, Kota Cirebon
Harga:
- Docang        : Rp10.000/porsi (sudah termasuk kerupuk)
- Teh tawar     : Gratis

Setelah mengisi perut, kami segera bertolak menuju penginapan untuk menitipkan ransel kami yang entah mengapa pagi itu terasa lebih berat dari saat kami berangkat dari Jogja. Penginapan kami lokasinya tak jauh dari Alun-alun Kejaksan, mungkin hanya sekitar 10 menit berkendara. Kami memutuskan untuk menitipkan dahulu ke Tenacity Guest House karena check-in baru boleh dilakukan pukul 14.00 WIB, sedangkan pagi itu kami sudah membuat daftar lokasi yang akan dikunjungi sejak pagi.

Mengulik Pesona Sejarah di Cirebon

Tujuan pertama kami adalah Keraton Kasepuhan Cirebon yang lokasinya berada di Jl. Kasepuhan No.43, Kasepuhan, Kec. Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Jalanan Cirebon pagi itu cukup lengang, tak begitu banyak kendaraan yang lalu lalang. Mungkin memang seperti ini kesibukan kota ini setiap harinya. Walau jalanannya lengang, alun-alun di depan keraton ternyata cukup ramai oleh warga yang menikmati jajanan yang sangat beragam, dari yang masih bayi hingga kakek-nenek.

Untuk memasuki Keraton Kasepuhan Cirebon, pengunjung diwajibkan membayar tiket sebesar Rp15.000 (WNI umum). Sejurus kemudian, kami menyerahkan tiket kami kepada petugas di gerbang masuk. Hal pertama yang saya rasakan ketika memasuki kawasan keraton adalah perasaan tenang, sangat berbeda dengan suasana alun-alun tadi. Tidak begitu banyak pengunjung hari itu, yang membuat kami semakin leluasa menelusuri sudut demi sudut cagar peninggalan Kerajaan Cirebon tersebut. Kawasan sekitar keraton terasa sangat asri dan teduh, dikelilingi oleh aliran air sebagai representasi laut yang memiliki makna kerendahan dan keluasaan hati, ditambah dengan hijaunya pepohonan yang ada di sekitar. 

Ketika memasuki kawasan keraton, kami disambut dengan interior yang sangat khas. Didominasi warna putih yang berpadu serasi dengan tembok bata merah tua serta taman rumput hijau dihiasi pepohonan rindang, rasanya seperti kembali mengunjungi masa kejayaan kerajaan itu. Beberapa bangunan keraton masih terjaga keasliannya, tak terkecuali dua buah patung macan putih di Taman Bunderan Dewandaru.












Setelah puas mengelilingi kawasan keraton, kami bergegas menuju destinasi berikutnya, yaitu Taman Kepurbakalaan Gua Sunyaragi yang lokasinya hanya sekitar 5km tak jauh dari keraton. Cagar budaya yang berlokasi di Jl. By Pass Brigjen Dharsono, Desa Sunyaragi, Kecamatan Kesambi, Cirebon ini merupakan situs bersejarah di Kota Cirebon yang digunakan oleh para sultan di masa lalu untuk bermeditasi dan mengatur strategi perlawanan terhadap penjajahan Belanda.

Gua Sunyaragi berada di atas lahan hijau seluas 15 hektar yang dibangun dengan menggabungkan beberapa ornamen yakni Islam, Hindu, dan Tiongkok. Situs ini secara keseluruhan menggunakan konsep zaman kerajaan di masa lalu. Yang paling menarik dari Gua Sunyaragi sebenarnya adalah bentuk bangunannya yang dihiasi oleh batuan karang hampir di setiap sudut. Batuan karang tersebut disusun sedemikian rupa menyerupai awan, yang nampak seperti di atas bangunan temboknya. Selain memiliki struktur bangunan yang unik, situs Gua Sunyaragi juga memiliki taman yang asri menghijau dan katanya sering dijadikan lokasi untuk pre-wedding. Dan terbukti, hari itu juga ada sepasang calon pengantin yang melakukan pemotretan di sana.




Siang itu begitu terik. Setelah puas berfoto dan menelusuri setiap sudut Gua Sunyaragi, kami segera beranjak untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan lagi. Kami akhirnya memilih untuk mencicipi empal gentong di kawasan Jl. Slamet Riyadi yang ternyata memang sentra kuliner empal gentong di Cirebon. Rumah makan Empal Gentong Krucuk 2 menjadi tempat perhentian kami. Segera kami memesan empal gentong, sate sapi, tahu gejrot, dan es teh manis. Empal gentong adalah hidangan kuah bersantan plus lontong atau nasi, yang rasanya gurih seperti soto namun memiliki bumbu dan aroma yang khas. Untuk isiannya, empal gentong yang dijual berisi daging sapi, bisa juga berupa jeroan, babat, usus, paru, atau bagian jeroan lainnya. Uniknya, empal gentong menggunakan taburan irisan daun kucai dan cabe bubuk. 

Menu ini dinamakan empal gentong sebab cara memasaknya adalah dengan menggunakan gentong dan memakai kayu bakar sebagai sumber apinya. Wajar sih kalau pengunjung sangat puas dengan cita rasa Empal Gentong Krucuk. Kami bisa melihat cara memasaknya yang khas dengan gentong yang berbahan tanah liat yang menimbulkan aroma yang khas ketika dipanasi.

Serius, ini kuahnya gurih di luar batas



Lokasi: Empal Gentong Krucuk, Jl. Slamet Riyadi No. 1, Krucuk, Kota Cirebon
Harga:
- Empal gentong sapi : Rp23.000/porsi
- Nasi putih         : Rp5.000/porsi
- Sate sapi : Rp20.000/5 tusuk
- Es teh manis : Rp5.000/gelas
- Tahu gejrot : Rp8.000/porsi

Setelah perut terisi penuh, kami kembali ke Tenacity Guest House, tempat di mana kami akan menginap. Selesai check-in, kami membersihkan diri dan beristirahat sejenak. Tak terasa, perjalanan pagi itu cukup menguras tenaga kami hingga kami tertidur pulas. Siang itu cuaca cukup terik, pertanda akan turun hujan di sore atau malam harinya. Benar saja, ketika sorenya kami menikmati es kopi di sebuah kafe bertajuk Ruang Tengah Coffee Space di kawasan Jl. Kedawung, Cirebon, langit berangsur mendung dan tak lama gerimis mulai turun. Kami bercerita banyak hal sembari sesekali menyeruput es kopi susu di tangan, dan tentu saja berselfie layaknya pengunjung lain.






Perut Bergejolak di Malam Hari

Selesai melaksanakan ibadah tiga rakaat di sana, perut kami kembali bergejolak. Malam itu rasanya lapar sekali. Di daftar kuliner yang sudah kami buat, ada salah satu kuliner khas Cirebon yang sudah lama ingin kami coba dan sepertinya malam itu adalah malam yang tepat. Namanya adalah sate kalong. Eits, walau bertajuk sate kalong yang berarti kelelawar dalam bahasa Jawa, sate khas Cirebon ini bukan terbuat dari daging kelelawar kok, melainkan dari daging dan tetelan kerbau yang dikombinasikan dengan aneka bumbu dan rempah tradisional. Rasanya gurih manis, dan dagingnya lembut, disajikan dengan irisan lontong, bumbu kacang, dan sambal.

Penamaan sate kalong sendiri ternyata muncul pada awal 1900-an, sebabnya adalah kuliner ini memang hanya dijajakan pada malam hari saja. Karena itulah, lama-kelamaan banyak orang yang menamakan sate kerbau ini sebagai sate kalong, sama halnya seperti kalong atau kelelawar yang hanya aktif saat malam menjelang.

Ada dua jenis sate, daging dan tetelan



Lokasi: Sate Kalong Pak Karyadi, Jl. Lemahwungkuk No.68, Kec. Lemahwungkuk, Kota Cirebon
Harga:
- Sate kerbau (daging) : Rp20.000/10 tusuk
- Sate kerbau (tetelan) : Rp10.000/10 tusuk
- Lontong         : Rp5.000/porsi
- Teh tawar : Gratis (free refill)

Pulang ke Kotamu

Perjalanan wisata kuliner di Kota Cirebon kami tutup dengan menikmati kuliner bernama nasi jamblang yang kami nikmati sebagai menu sarapan kami. Menu ini sepertinya memang sudah biasa menjadi menu sarapan warga Cirebon juga, terbukti dengan ramainya warung makan nasi jamblang di pagi hari. 

Warung makan nasi jamblang yang kami kunjungi adalah Nasi Jamblang Pelabuhan Hj. Sumarni yang terletak di Jl Yos Sudarso No 1, Panjunan, Cirebon, tak jauh dari pintu Pelabuhan Cirebon. Lokasinya ternyata cukup tersembunyi. Untuk bisa masuk ke dalam warungnya, kami harus melewati gapura batu bata berwarna merah. Di dalam, sudah tersedia berbagai macam lauk pauk pelengkap nasi jamblang. Yang khas dari kuliner ini adalah nasi yang dibungkus dengan daun jati. Kami bebas memilih lauk dan sayur untuk piring kami masing-masing. Pilihannya sangat banyak, mulai dari perkedel, tempe goreng, tumis kerang, sate-satean, telur dadar, ayam goreng, cumi saos hitam, dan masih banyak lagi. Dijamin kalap, hahaha.

Definisi kalap yang sebenarnya



Nasinya dibungkus daun jati

Cumi saos hitamnya juaraaaa!

Tumis kerang yang juga jadi primadona

Lokasi: Nasi Jamblang Pelabuhan Hj. Sumarni yang terletak di Jl Yos Sudarso No 1, Panjunan, Cirebon
Harga:
- Nasi jamblang (di piring saya)  : Rp35.000
- Es teh manis                    : Rp5.000

Setelah kenyang, kami menutup perjalanan di Cirebon dengan mengunjungi Alun-alun Kejaksan yang berada di Jl. Kartini, Kebonbaru, Kec. Kejaksan, Kota Cirebon. Kemarin ketika kami melewati alun-alun ini, terdapat banyak sekali pengunjung, baik yang sedang jogging atau menikmati jajanan di sekitar. Pagi itu, suasananya sangat sepi, mungkin karena hari Senin. 






Way back home~



Terkapaaaar~

Setelah puas berfoto dan berkeliling, kami segera kembali ke penginapan dan memberesi barang kami untuk pulang ke kota tercinta. Sebuah perjalanan di Kota Udang yang singkat namun cukup bermakna. Kapan ya kami bisa mengunjungi kota ini lagi?


Yogyakarta, 8 April 2022







Post a Comment

0 Comments